Suryamu

Inspirasi,Motivasi,Pendidikan dan Pengetahuan

Tampilkan postingan dengan label Pustaka Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pustaka Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2026

Memaknai Cinta dalam Bingkai Takwa

Memaknai Cinta dalam Bingkai Takwa




Oleh Bahrus Surur-Iyunk, Kader Muhammadiyah lulusan Pondok Modern Muhammadiyah Paciran, Penulis Tetap Rubrik Bina Akidah Majalah Suara Muhammadiyah

Islam mengajarkan umatnya untuk saling mencintai dengan penuh ketulusan. Islam juga mendorong umatnya untuk menumbuhkan rasa cinta yang sejati. Yaitu, cinta kepada Allah, yang kemudian memancar menjadi cinta kepada sesama manusia dan seluruh ciptaan-Nya. Mencintai Allah dengan tulus akan melahirkan kasih sayang, kepedulian, dan solidaritas sosial yang kuat. Maka, cinta kepada sesama adalah refleksi dari cinta kepada Tuhan.

Dalam Islam, cinta kepada Allah tidak hanya berhenti pada ritual pribadi. Ia harus diwujudkan dalam bentuk cinta kepada keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dan tanah air. Karena itulah, shalat berjamaah lebih besar pahalanya daripada shalat sendirian bukan semata-mata karena jumlah rakaatnya, tetapi karena ada nilai kebersamaan dan persaudaraan di dalamnya. Islam sangat menjunjung tinggi nilai kolektif, kerja sama, dan kasih sayang di antara umat manusia.

Sesama Muslim adalah saudara. Persaudaraan ini bukan sekadar kata-kata, melainkan harus dibuktikan dalam keseharian: dengan saling mengucap salam, saling menjaga, menghargai, dan menghindari prasangka buruk. Sebab, hati yang bersih tidak akan melahirkan kebencian, sekecil apapun.

Cinta kepada istri, suami, anak, dan keluarga pun merupakan bagian dari ibadah, bagian dari wujud takwa dan cinta kepada Allah. Tidak pantas seseorang mengaku bertakwa tetapi masih menyimpan dendam, bersikap sinis, dan bermuka masam kepada orang lain. Rasulullah ﷺ telah memberikan keteladanan yang sempurna. Dalam waktu 23 tahun, beliau berhasil membangun masyarakat Arab yang awalnya keras menjadi umat yang berakhlak mulia. Itu semua terjadi bukan karena perintah semata, tetapi karena Rasulullah sendiri lebih dulu menjalankan apa yang beliau serukan. Keteladanan adalah kunci perubahan.

Dalam konteks bangsa, cinta kepada tanah air juga bagian dari iman. Maka, dalam situasi Indonesia yang masih penuh tantangan seperti praktik korupsi dan ketidakadilan, mencintai negeri ini berarti menjaga dan tidak menyakitinya. Korupsi, kolusi, dan perusakan alam adalah bentuk pengkhianatan terhadap cinta tanah air. Indonesia adalah sajadah tempat kita bersujud dan beribadah. Maka, jangan kotori sajadah ini dengan perilaku yang merusak.

Cinta yang dibingkai dengan takwa adalah cinta yang suci, yang mendorong setiap individu menjadi lebih baik bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan negerinya. Inilah cinta yang tidak sekadar emosi, tetapi menjadi jalan menuju keridhaan Allah. Wallahu a’lamu .

Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Memaknai Cinta dalam Bingkai Takwa, https://suaramuhammadiyah.id/read/memaknai-cinta-dalam-bingkai-takwa

Relevansinya Etika dalam Kehidupan

Terkadang sesuatu yang sepele dan remeh banyak diabaikan orang. Tapi sesungguhnya berdampak besar dalam kehidupan. Soal etika misalnya. Semua orang mafhum mengenai etika. Sudah pasti sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, etika menjadi pelajaran yang niscaya diperoleh. Tapi persoalannya, adakah di antara kita telah mengejawantahkan etika dalam kehidupan dengan sebagaimana semestinya?

Fakta berbicara terbuka, di mana masih banyak orang belum memahami etika secara utuh, lebih-lebih mempraktikkannya. Setiap tarikan napas kehidupan, etika tidak bisa dilepaskan. Etika laksana magnet yang selalu menyatu dalam denyut nadi kehidupan kita sehari-hari. Etika tidak pernah hilang dari kehidupan, Ia merepresentasikan perangai manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Kita seyogianya jengah, banyak orang cerdas tapi minus etika. Banyak orang rupawan dan kirana, namun sama sekali tidak beretika. Inilah realitas getir yang terlukis dalam kanvas kehidupan masa kini dan menjadi paradoks bilamana menetap di negeri idaman seperti Indonesia. Negeri yang terkenal dengan tindak tanduknya, tapi belakangan tampak jauh panggang dari api.

Panorama luruhnya etika memang bukan fenomena baru. Tapi, ini fenomena lama, namun bila tidak segera diperbaiki, yang terjadi negeri ini porak-poranda akibat masyarakatnya bertindak serampangan hatta tercerabutnya etika dalam dirinya. Etika sebagai jangkar kehidupan. Dan segenap orang tua niscaya telah memberikan pengajaran luhur ini kepada anak-anaknya. Tinggal bagaimana anak-anaknya merespons dan mengimplementasikannya.

Etika sangat mendalam sekali substansinya. Etika tidak hanya sekadar menyangkut soal individu di lingkungan masyarakat, termasuk di lingkungan kerja. Dalam konteks lingkungan kerja, etika sangat dinomorsatukan. Bekerja tidak berlandaskan etika, maka akan merugikan diri sendiri. Etika menjadi gambaran cara seseorang bekerja. Ketika etika saja sudah tidak bagus, bekerjanya pun pasti tidak bagus jua, lebih-lebih bekerja dalam tim, hanya menjadi batu penarung semata.

Diakui, Islam menempatkan pada posisi tertinggi ihwal etika. Segala gerak kehidupan di muka bumi, telah sedemikian rupa diletakkan etikanya. Ajaran Islam sangat komprehensif membingkai etika mulai dari etika bertamu, etika makan-minum, etika berbicara, etika berpakaian, dan masih banyak lagi. Islam menekankan agar manusia dapat menjalani kehidupan mengedepankan etika. Saat ini terjadinya krisis etika menjadikan kita untuk mendekonstruksi pemahaman keislaman agar menemukan substansi ajaran luhur secara utuh, sehingga tidak dipahami secara parsial.

Pemahaman keislaman secara parsial itulah menyebabkan keolengan berpikir dalam memahami bahkan menjalankannya. Alhasil, etika tidak terpatri dalam gerak kehidupan tak pelak melahirkan perilaku nista dari ajaran Islam yang membawa pencerahan itu. Maka, perlu mengoreksi sejauh mana etika telah kita praktikkan secara nyata. Ini sebuah pekerjaan tidak mudah dilakukan, tapi selagi ada kemauan pasti ada jalan kemudahan.

Hidup ada etikanya, jangan semaunya. Semesta ini sudah ada aturannya, tinggal bagaimana kita melaksanakannya. Penyimpangan terhadap etika hanya akan membuat hidup amburadul akibatnya jauh dari yang dicita-citakan. Yakni hidup berkeadaban melahirkan manusia berintegritas sehingga dapat mencerahkan jagat semesta raya

Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Relevansinya Etika dalam Kehidupan, https://suaramuhammadiyah.id/read/relevansinya-etika-dalam-kehidupan

Minggu, 29 Januari 2012

3 Langkah Menjadi Manusia Terbaik

3 Langkah Menjadi Manusia Terbaik

Dari dakwatuna.com - Ada hadits pendek namun sarat makna dikutip Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir. Bunyinya, “Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” Terjemahan bebasnya: sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.
Derajat hadits ini ini menurut Imam Suyuthi tergolong hadits hasan. Syeikh Nasiruddin Al-Bani dalam bukunya Shahihul Jami’ush Shagir sependapat dengan penilaian Suyuthi.
Adalah aksioma bahwa manusia itu makhluk sosial. Tak ada yang bisa membantah. Tidak ada satu orangpun yang bisa hidup sendiri. Semua saling berketergantungan. Saling membutuhkan.
Karena saling membutuhkan, pola hubungan seseorang dengan orang lain adalah untuk saling mengambil manfaat. Ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang lazim. Adil.
Jika ada orang yang mengambil terlalu banyak manfaat dari orang lain dengan pengorbanan yang amat minim, naluri kita akan mengatakan itu tidak adil. Orang itu telah berlaku curang. Dan kita akan mengatakan seseorang berbuat jahat ketika mengambil banyak manfaat untuk dirinya sendiri dengan cara yang curang dan melanggar hak orang lain.
Begitulah hati sanubari kita, selalu menginginkan pola hubungan yang saling ridho dalam mengambil manfaat dari satu sama lain. Jiwa kita akan senang dengan orang yang mengambil manfaat bagi dirinya dengan cara yang baik. Kita anggap seburuk-buruk manusia orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita dengan cara yang salah. Apakah itu menipu, mencuri, dan mengambil paksa, bahkan dengan kekerasan.
Namun yang luar biasa adalah orang lebih banyak memberi dari mengambil manfaat dalam berhubungan dengan orang lain. Orang yang seperti ini kita sebut orang yang terbaik di antara kita. Dermawan. Ikhlas. Tanpa pamrih. Tidak punya vested interes.
Orang yang selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik manusia. Kenapa Rasulullah saw. menyebut seperti itu? Setidaknya ada empat alasan. Pertama, karena ia dicintai Allah swt. Rasulullah saw. pernah bersabda yang bunyinya kurang lebih, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Siapakah yang lebih baik dari orang yang dicintai Allah?
Alasan kedua, karena ia melakukan amal yang terbaik. Kaidah usul fiqih menyebutkan bahwa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi jika spektrumnya lebih luas lagi. Amal itu bisa menyebabkan orang seluruh negeri merasakan manfaatnya. Karena itu tak heran jika para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada Rasulullah, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan. Ketika musim kemarau dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah berkata membuat sumur adalah amal yang paling utama. Saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sudah sepuh dan tidak ada yang merawat, Rasulullah menyebut berbakti kepada si ibu adalah amal yang paling utama bagi orang itu.
Ketiga, karena ia melakukan kebaikan yang sangat besar pahalanya. Berbuat sesuatu untuk orang lain besar pahalanya. Bahkan Rasulullah saw. berkata, “Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada I;tikaf sebulan di masjidku ini.” (Thabrani). Subhanallah.
Keempat, memberi manfaat kepada orang lain tanpa pamrih, mengundang kesaksian dan pujian orang yang beriman. Allah swt. mengikuti persangkaan hambanya. Ketika orang menilai diri kita adalah orang yang baik, maka Allah swt. menggolongkan kita ke dalam golongan hambanya yang baik-baik.
Pernah suatu ketika lewat orang membawa jenazah untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut orang itu sebagai orang yang tidak baik. Kemudian lewat lagi orang-orang membawa jenazah lain untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut kebaikan si mayit. Rasulullah saw. membenarkan. Seperti itu jugalah Allah swt. Karena itu di surat At-Taubah ayat 105, Allah swt. menyuruh Rasulullah saw. untuk memerintahkan kita, orang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal agar Allah, Rasul, dan orang beriman menilai amal-amal kita. Di hari akhir, Rasul dan orang-orang beriman akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita seperti yang mereka saksikan di dunia.
Untuk bisa menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain, kita perlu menyiapkan beberapa hal dalam diri kita. Pertama, tingkatkan derajat keimanan kita kepada Allah swt. Sebab, amal tanpa pamrih adalah amal yang hanya mengharap ridho kepada Allah. Kita tidak meminta balasan dari manusia, cukup dari Allah swt. saja balasannya. Ketika iman kita tipis terkikis, tak mungkin kita akan bisa beramal ikhlas Lillahi Ta’ala.
Ketika iman kita memuncak kepada Allah swt., segala amal untuk memberi manfaat bagi orang lain menjadi ringan dilakukan. Bilal bin Rabah bukanlah orang kaya. Ia hidup miskin. Namun kepadanya, Rasulullah saw. memerintahkan untuk bersedekah. Sebab, sedekah tidak membuat rezeki berkurang. Begitu kata Rasulullah saw. Bilal mengimani janji Rasulullah saw. itu. Ia tidak ragu untuk bersedekah dengan apa yang dimiliki dalam keadaan sesulit apapun.
Kedua, untuk bisa memberi manfaat yang banyak kepada orang lain tanpa pamrih, kita harus mengikis habis sifat egois dan rasa serakah terhadap materi dari diri kita. Allah swt. memberi contoh kaum Anshor. Lihat surat Al-Hasyr ayat 9. Merekalah sebaik-baik manusia. Memberikan semua yang mereka butuhkan untuk saudara mereka kaum Muhajirin. Bahkan, ketika kaum Muhajirin telah mapan secara financial, tidak terbetik di hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri.
Yang ketiga, tanamkan dalam diri kita logika bahwa sisa harta yang ada pada diri kita adalah yang telah diberikan kepada orang lain. Bukan yang ada dalam genggaman kita. Logika ini diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada kita. Suatu ketika Rasulullah saw. menyembelih kambing. Beliau memerintahkan seoran sahabat untuk menyedekahkan daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang tersisa. Sahabat itu menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw. mengoreksi jawaban sahabat itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah dibagikan.
Begitulah. Yang tersisa adalah yang telah dibagikan. Itulah milik kita yang hakiki karena kekal menjadi tabungan kita di akhirat. Sementara, daging paha yang belum dibagikan hanya akan menjadi sampah jika busuk tidak sempat kita manfaatkan, atau menjadi kotoran ketika kita makan. Begitulah harta kita. Jika kita tidak memanfaatkannya untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya. Harta itu akan habis lapuk karena waktu, hilang karena kematian kita, dan selalu menjadi intaian ahli waris kita. Maka tak heran jika dalam sejarah kita melihat bahwa para sahabat dan salafussaleh enteng saja menginfakkan uang yang mereka miliki. Sampai sampai tidak terpikirkan untuk menyisakan barang sedirham pun untuk diri mereka sendiri.
Keempat, kita akan mudah memberi manfaat tanpa pamrih kepada orang lain jika dibenak kita ada pemahaman bahwa sebagaimana kita memperlakukan seperti itu jugalah kita akan diperlakukan. Jika kita memuliakan tamu, maka seperti itu jugalah yang akan kita dapat ketika bertamu. Ketika kita pelit ke tetangga, maka sikap seperti itu jugalah yang kita dari tetangga kita.
Kelima, untuk bisa memberi, tentu Anda harus memiliki sesuatu untuk diberi. Kumpulkan bekal apapun bentuknya, apakah itu finansial, pikiran, tenaga, waktu, dan perhatian. Jika kita punya air, kita bisa memberi minum orang yang harus. Jika punya ilmu, kita bisa mengajarkan orang yang tidak tahu. Ketika kita sehat, kita bisa membantu beban seorang nenek yang menjinjing tak besar. Luangkan waktu untuk bersosialisasi, dengan begitu kita bisa hadir untuk orang-orang di sekitar kita.

Senin, 28 November 2011

ASAS-ASAS PERNIAGAAN ISLAMI


Riba
Di antara beberapa ketentuan Allah seputar perniagaan, riba adalah hal yang paling awal-awal dan paling sering disinggung.  Kata "riba" secara harfiah berarti "tambahan" atau "lebihan".  Pada masa sekarang riba ini lebih dikenal dengan istilah "bunga" dan pelakunya biasa kita kenal sebagai "rentenir".

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba berlipat ganda, dan takutlah kepada Allah agar kamu beruntung".
[Q.S. 3:130]

Para pemakan riba mengatakan bahwa jual beli sama dengan riba.  Di dalam jual beli, penjual mengenakan harga yang lebih tinggi dari pada harga pokok untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya sebuah barang dibeli seharga Rp. 100,- dan dijual seharga Rp. 150,- maka tambahan dari harga pokok yang Rp. 50,- merupakan keuntungan penjual.

Para pemakan riba ingin menunjukkan proses yang menurutnya sama, yaitu misalnya ia meminjamkan uang sebesar Rp. 100,- dan dia minta agar peminjam mengembalikan utang plus bunganya sebesar Rp. 150,- maka tambahan yang Rp. 50,- merupakan keuntungan baginya.

Di atas tadi adalah alur argumentasi pemakan riba yang kerasukan syaitan, namun Allah tegaskan bahwa jual beli adalah halal, sebaliknya riba adalah haram.

"Orang-orang yang memakan riba tidak akan berdiri lagi, melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan syaitan; itu adalah karena mereka mengatakan, `Jual beli adalah sama dengan riba'.  Allah menghalalkan jual beli, dan mengharamkan riba..." [Q.S. 2:275]

Kepada mereka yang selama ini menjalani aktivitas ribawi, Allah perintahkan untuk segera meninggalkan perbuatan tersebut.  Apabila masih ada piutang yang belum dipungut, cukuplah tagih modalnya saja tanpa bunga karena sesungguhnya Allah teramat membenci perbuatan riba dan menyatakan perang terhadap pelakunya.

"Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba…   Tetapi jika tidak kamu lakukan, maka ketahuilah bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu.  Namun jika kamu bertaubat, maka bagimu modalmu dengan tidak menzalimi, dan tidak dizalimi..." [Q.S. 2:278-279]

Dalam memungut utang, Allah ingatkan agar orang yang berpiutang tidak mendesak apabila yang berutang memang belum sanggup melunasi.

"Dan jika (orang yang berutang) mempunyai kesukaran, berilah dia tangguh sampai berkelapangan; tetapi jika kamu menyedekahkan, itulah yang lebih baik bagimu sekiranya kamu mengetahui". [Q.S. 2:280]

Bunga Bank
Ayat-ayat tentang riba di atas dengan jelas mengarah pada aktivitas rentenir, lalu bagaimana dengan sebagian kita yang menerima bunga bank setiap bulannya?

Sebagai nasabah bank, jelas kita tidak melakukan aktivitas riba di atas secara langsung; kita tidak menuntut bunga tertentu dan tidak pernah menagih seseorang.  Pelaku riba secara langsung dalam hal ini adalah bank. Namun perlu diingat bahwa kita selaku nasabah pun tidak lepas dari keterlibatan riba.  Bagaimanapun, uang yang diribakan oleh bank itu adalah uang kita dan kita sadar bahwa tambahan bunga yang masuk ke saldo kita adalah hasil dari kegiatan riba bank tersebut.

Memang dengan jelas Allah gambarkan bahwa pada kasus tertentu pelaku riba membagikan hasil ribanya kepada orang lain, gambaran ini persis sama dengan aktivitas bank menambahkan bunga ke saldo kita."Dan apa yang kamu berikan dalam riba supaya menambah harta manusia, ia tidak bertambah di sisi Allah; tetapi apa yang kamu berikan dalam zakat dengan menghendaki Wajah Allah, maka itulah yang melipatgandakan". [Q.S. 30:39]

Mengingat bahwa aktivitas bank konvensional tidak kondusif bagi kita dalam mengupayakan kesucian diri, maka segeralah beralih ke bank syariah.  Ada banyak bank syariah yang bisa dijadikan pilihan tempat menyimpan uang, silahkan pilih yang dirasakan sesuai.  Pengalaman penulis ketika membuka rekening di salah satu bank syariah tidak mengecewakan.  Formulir isiannya sederhana saja, hanya 2/3 halaman; rasio bagi hasil antara kita dan bank 51:49; tarik tunai di jaringan ATM BCA tidak dikenakan biaya; dan bebas biaya administrasi bulanan.Bagi kaum muslimin yang bekerja di bank konvensional, keterlibatan anda dengan riba tentu lebih dalam dibandingkan dengan nasabah bank yang sekadar menerima bunga; oleh karena itu perlu mengupayakan diri mendapatkan pekerjaan lain yang bersih dari riba.

Mencatat transaksi non-tunai
Di dalam berbisnis ada kalanya kita melakukan transaksi secara tidak tunai dalam arti salah satu pihak masih punya kewajiban yang harus dipenuhinya di masa mendatang.  Dalam kejadian seperti ini, Allah menyuruh kita agar mencatatkan kontrak tersebut melalui seorang penulis dengan disaksikan oleh dua orang saksi.  Orang yang berutang (mempunyai kewajiban yang belum ditunaikan) mendiktekan pernyataannya tentang hutang itu. 

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berkontrak secara hutang untuk waktu tertentu satu sama lain, hendaklah kamu menuliskannya.  Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menulisnya dengan adil, dan janganlah seorang penulis enggan untuk menulis sebagaimana Allah mengajarkannya.  Maka hendaklah dia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Rabbnya, dan janganlah mengurangi sesuatu darinya.  Jika penghutang itu bodoh, atau lemah, atau tidak bisa mengimlakkan, maka hendaklah walinya mendiktekan dengan adil. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki; atau jika tidak ada dua laki-laki, maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan, saksi-saksi yang kamu relai, agar jika salah seorang dari keduanya sesat (keliru), yang seorang lagi akan mengingatkannya.  Dan janganlah saksi-saksi itu enggan apabila mereka dipanggil,dan janganlah kamu enggan menulisnya, baik kecil ataupun besar sampai dengan waktunya. Itu adalah lebih adil pada pandangan Allah, lebih tegak untuk kesaksian, dan lebih sesuai supaya kamu tidak ragu-ragu, kecuali perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu; maka tidaklah bersalah atas kamu jika kamu tidak menulisnya. 
Dan adakanlah saksi-saksi apabila kamu berjual beli sesama kamu.  Dan janganlah penulis atau saksi ditekan; jika kamu lakukan,itu adalah kefasiqan pada dirimu. Dan takutlah kepada Allah; Allah mengajar kamu, dan Allah mengetahui segala sesuatu". [Q.S. 2:282]

Apabila tidak didapati penulis, sebagai gantinya dapat menggunakan tanggungan sebagai jaminan.  Melalui kontrak tertulis ini Allah menghendaki adanya keadilan dan kepastian hukum untuk para pihak yang berniaga.

"Dan jika kamu dalam perjalanan, dan kamu tidak mendapati seorang penulis, maka hendaklah ada suatu tanggungan yang dipegang.  Tetapi jika kamu saling mempercayai satu sama lain, hendaklah orang yang dipercayai itu menunaikan amanatnya, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Rabbnya.  Dan janganlah menyembunyikan kesaksian, dan barang siapa menyembunyikannya maka hatinya berdosa; dan Allah mengetahui apa yang kamu perbuat".
[Q.S. 2:283]

Memakan harta dengan cara palsu
Allah melarang kita mendapatkan harta dengan cara palsu, yang Allah bolehkan adalah perdagangan dengan asas saling setuju (konsensualisme).  Hemat penulis, aktivitas "MLM", "money game", "skema piramid" dan sejenisnya termasuk ke dalam kategori "memakan harta dengan cara palsu".

Di dalam aktivitas "MLM", "money game", "skema piramid" dan sejenisnya, seseorang mendapatkan harta dari hasil memerangkap orang lain untuk menjadi downliners nya.  Uang yang didapatkannya dari si downliners tidak dapat dikatakan sebagai komisi di dunia perniagaan. Komisi adalah apabila A menjualkan produk milik B dan A mendapatkan sekian persen keuntungan dari B atas produknya yang terjual.

Aktivitas "MLM", "money game", "skema piramid" dan sejenisnya sama sekali tidak seperti itu.  Yang terjadi adalah B yang telah diperah oleh A, balas memerah C.  Si C yang telah diperah oleh A dan B, balas memerah D dan seterusnya.

Ada sebuah ulasan menarik tentang kegombalan MLM yang dikutip dari situs
http://priyadi.net ketika ia mengomentari salah satu praktek MLM online:

"…Lebih jauh lagi, kami melihat bahwa Elite Team menawarkan janji yang menyesatkan, yaitu menyatakan bahwa tujuan Elite Team adalah agar semua anggota Elite Team memperoleh penghasilan $6.688 per bulan, dan bahwa ini adalah tujuan yang realistis. Tetapi realitanya adalah: seandainya semua anggota Elite Team bekerja keras dan teguh pada regimen Elite Team, hanya 1 dari 341 orang, atau 0,29%(!) yang memperoleh $6.688 per bulan. Sangatlah jauh dari apa yang diakui sebagai tujuan realistis Elite Team.Produk yang ditawarkan Anne Ahira/EliteTeam adalah keanggotaan representative (rep.) di Financial Freedom Society, Inc. (FFSI), di mana setiap rep. harus membayar $54,95 per bulan kepada FFSI. Setiap rep. memperoleh komisi dari menjual keanggotaan FFSI ke orang lain sehingga menjadi rep. baru. Orang yang direkrut ini disebut sebagai affiliate, atau di MLM lain dikenal dengan nama downline, dan setiap rep. juga memperoleh komisi dari penjualan yang dilakukan oleh downline-nya sampai empat tingkat downline.

Selain dari keanggotaan FFSI, boleh dibilang tidak ada produk atau jasa yang dijual oleh Anne Ahira dan Elite Team. Dalam sistem Elite Team, besar penghasilan bulanan seorang anggota tergantung dari jumlah downline FFSI-nya dan bagaimana struktur downline tersebut karena tidak ada atau hampir tidak ada penghasilan seorang anggota Elite Team selain dari komisi FFSI. Dengan perhitungan satu anggota mendapatkan 4 anggota baru, seperti yang dipraktikkan oleh Elite Team, maka hanya dalam 17 tingkat piramida jumlah anggota keseluruhan menjadi sebanyak 5.73 miliar. Sedangkan jumlah populasi manusia keseluruhan di dunia hanyalah 6.4 miliar. Jika seluruh 5.7 miliar manusia tersebut mengikuti program ini, maka hanya 89 juta orang yang akan berpenghasilan $6.688 per bulan. Sementara 5.3 miliar lainnya merugi!…"

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta-harta sesamamu dengan cara palsu, kecuali dalam perdagangan dengan persetujuan bersama antara kamu…". [Q.S. 4:29]

Satu lagi bentuk memakan harta manusia dengan cara palsu menurut hemat penulis terkait dengan riba yang telah disinggung di atas.

Tidak jarang orang yang dalam keadaan keuangan sangat terjepit merelakan rumah atau kendaraannya dijadikan jaminan hutang dengan bunga besar. Si penghutang tidak punya pilihan lain meskipun dia tidak yakin sanggup mengembalikan hutang beserta bunganya, sebaliknya si rentenir selain menginginkan uangnya kembali dalam jumlah jauh lebih besar, yang lebih diharapkannya adalah si penghutang tidak mampu membayar dan sebagai konsekuensinya rumah ataupun kendaraan yang sudah dijaminkan berpindah tangan. 

Perbuatan terkutuk seperti ini diancam oleh Allah dengan azab yang pedih.

"Dan disebabkan mereka mengambil riba, yang mereka telah dilarang darinya, dan memakan harta manusia dengan cara palsu; dan Kami menyediakan bagi orang-orang yang tidak beriman di antara mereka, siksa yang pedih". [Q.S. 4:161]

Adil dalam takaran dan timbangan
Akhirnya, Allah menjelaskan di dalam Kitab-Nya ketentuan berkaitan dengan takaran dan timbangan.  Allah perintahkan agar penakaran dan penimbangan dilakukan dengan tepat, lurus dan adil.

"… Maka tepatilah takaran dan timbangan, dan janganlah mengurangi sesuatu bagi manusia…". [Q.S. 7:85]  (Ayat-ayat lain yang serupa: 11:85, 17:35)

Secara khusus Allah menurunkan sebuah surat dengan topik ini.  Allah meyumpah kecelakaan bagi orang-orang yang berbuat curang, yaitu apabila takaran itu untuk dirinya ia menuntut penuh, namun apabila tiba gilirannya yang ditakar untuk orang lain, ia kurangkan.

"Kecelakaanlah bagi orang-orang yang curang, yang apabila mereka menerima takaran manusia, mengambil takaran yang penuh.  Tetapi apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi".
[Q.S. 83:1-3]