Suryamu

Inspirasi,Motivasi,Pendidikan dan Pengetahuan

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Desember 2011

ADAB PENUNTUT ILMU

ADAB PENUNTUT ILMU
Setiap perkara kebaikan yang kita lakukan adalah di tuntut supaya mengikut susur-galur yang telah ditetapkan mengikut panduan yang diteladani oleh junjungan besar nabi kita Muhammad S.A.W. Dan mengikut bahasa mudahnya adalah sebagai adab-adab yang perlu kita ikuti bagi memastikan keberjayaan ape yang kita buat berpaksikan kebenaran,contohnya menuntut ilmu, menuntut kita supaya mengikuti adab-adab sebagai penuntut ilmu.Yang mana hasilnya adalah keberkatan ilmu untuk kebaikan Dunia dan seterusnya Akhirat.
Menuntut ilmu adalah satu kewajipan bagi kita kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya. Adab-adab dalam menuntut ilmu yang harus kita ketahui agar ilmu yang kita tuntut berfaedah bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita sangatlah banyak. Adab-adab tersebut di antaranya adalah:
1. Ikhlas karena Allah S.w.t . Hendaknya niat kita dalam menuntut ilmu adalah kerana Allah S.w.t dan untuk negeri akhirat. Apabila seseorang menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan gelar agar boleh mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi orang yang terpandang atau niat yang sejenisnya, maka Rasulullah e telah memberi peringatan tentang hal ini dalam sabdanya :
"Barangsiapa yang menuntut ilmu yang pelajari hanya kerana Allah S.w.t sedang ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan mata-benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau syurga pada hari kiamat".( HR: Ahmad, Abu,Daud dan Ibnu Majah Tetapi kalau ada orang yang mengatakan bahawa saya ingin mendapatkan syahadah (MA atau Doktor, misalnya ) bukan kerana ingin mendapatkan dunia, tetapi kerana sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis kalau seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, segala ucapannya menjadi lebih didengarkan orang dalam menyampaikan ilmu atau dalam mengajar. Niat ini - insya Allah - termasuk niat yang benar.
2.Untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain. Semua manusia pada mulanya adalah bodoh. Kita berniat untuk menghilangkan kebodohan dari diri kita, setelah kita menjadi orang yang memiliki ilmu kita harus mengajarkannya kepada orang lain untuk menghilang kebodohan dari diri mereka, dan tentu saja mengajarkan kepada orang lain itu dengan berbagai cara agar orang lain dapat mengambil faedah dari ilmu kita. Apakah disyaratkan untuk memberi manfaat pada orang lain itu kita duduk di masjid dan mengadakan satu pengajian ataukah kita memberi manfa'at pada orang lain dengan ilmu itu pada setiap saat? Jawapan yang benar adalah yang kedua; kerana Rasulullah S.a.w bersabda :
"Sampaikanlah dariku walaupun cuma satu ayat (HR: Bukhari)
Imam Ahmad berkata: Ilmu itu tidak ada bandingannya apabila niatnya benar. Para muridnya bertanya: Bagaimanakah yang demikian itu? Beliau menjawab: ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.
3. Berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at. Sudah menjadi keharusan bagi para penuntut ilmu berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at. Kerana kedudukan syari'at sama dengan pedang kalau tidak ada seseorang yang menggunakannya ia tidak bererti apa-apa. Penuntut ilmu harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang dari agama (bid'ah), sebagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah S.a.w. Hal ini tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang memiliki ilmu yang benar, sesuai petunjuk Al-Qor'an dan As-Sunnah.
4. Lapang dada dalam menerima perbezaan pendapat. Apabila ada perbezaan pendapat, hendaknya penuntut ilmu menerima perbezaan itu dengan lapang dada selama perbezaan itu pada persoalan ijtihad, bukan persoalan aqidah, kerana persoalaan aqidah adalah masalah yang tidak ada perbezaan pendapat di kalangan salaf. Berbeza dalam masalah ijtihad, perbezaan pendapat telah ada sejak zaman shahabat, bahkan pada masa Rasulullah S.a.w masih hidup. Kerana itu jangan sampai kita menghina atau menjelekkan orang lain yang kebetulan berbeza pandapat dengan kita.
5. Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan. Termasuk adab yang tepenting bagi para penuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, kerana amal adalah buah dari ilmu, baik itu aqidah, ibadah, akhlak mahupun mu'amalah. Kerana orang yang telah memiliki ilmu adalah seperti orang memiliki senjata. Ilmu atau senjata (pedang) tidak akan ada gunanya kecuali diamalkan (digunakan).
6. Menghormati para ulama dan memuliakan mereka. Penuntut ilmu harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai ia mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru di dalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang biasa saja sudah termasuk dosa besar apalagi kalau orang itu adalah seorang ulama.
7. Mencari kebenaran dan sabar Termasuk adab yang paling penting bagi kita sebagai seorang penuntut ilmu adalah mencari kebenaran dari ilmu yang telah diperolehi. Mencari kebenaran dari berita berita yang sampai kepada kita yang menjadi sumber hukum. Ketika sampai kepada kita sebuah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dahulu tentang keshahihan hadits tersebut. Kalau sudah kita temukan bukti bahawa hadits itu adalah shahih, kita berusaha lagi mencari makna (pengertian ) dari hadits tersebut. Dalam mencari kebenaran ini kita harus sabar, jangan tergesa-gasa, jangan cepat merasa bosan atau keluh kesah. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran setengah-setengah, belajar satu kitab sebentar lalu ganti lagi dengan kitab yang lain. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa dari yang kita tuntut. Di samping itu, mencari kebenaran dalam ilmu sangat penting kerana sesungguhnya pembawa berita terkadang punya maksud yang tidak benar, atau barangkali dia tidak bermaksud jahat namun dia keliru dalam memahami sebuah dalil.
Sebagai penuntut ilmu terutamanya ilmu agama ALLAH,marilah sama-sama kita ikuti dan teladani ape yang Rasullah S.A.W. tinggal kepada kita mengenai adab-adab sebagai penuntut ilmu mudah-mudahan kita mendapat keberkatan ilmu itu sendiri,yang akhirnya dapat menyelamatkan masyarakat dan ummah seluruhnya.
Wallahu 'Alam.

Uang Bukan Kunci Perbaikan Kualitas Pendidikan

Uang Bukan Kunci Perbaikan Kualitas Pendidikan

Anggaran pendidikan sering dituding sebagai penyebab morat-maritnya
pendidikan di Indonesia. Betulkah demikian? Apakah dengan uang maka
otomatis pendidikan akan membaik?

Beberapa hari lalu, dalam sebuah percakapan di salah satu milis yang
saya ikuti, timbul pertanyaan seperti ini, “Apakah mungkin Indonesia
memiliki siswa-siswa yang nomor satu cerdasnya?”. Sebuah pertanyaan yang
mungkin terasa sederhana, bahkan tidak baru. Tapi sangat kuat
mengisyaratkan kepedulian sang penanya akan nasib masa depan Indonesia.
Untuk mencari jawabnya, kita perlu lebih dulu melontarkan pertanyaan
awalan: negara mana sajakah yang sukses dalam mendidik siswanya, dan apa
kiat yang mereka pakai?

Banyak orang berasumsi bahwa kualitas pendidikan dapat diperbaiki dengan
uang. Misalnya dengan meningkatkan anggaran pendidikan, seperti yang
dilakukan Inggris. Atau bisa juga dengan menyediakan gaji di atas
rata-rata untuk profesi guru, dengan maksud agar mendapatkan guru-guru
berkualitas, layaknya strategi yang dipakai Amerika. Namun ternyata
kedua negara tersebut bukanlah negara-negara dengan prestasi pendidikan
tertinggi, setidaknya jika dinilai berdasarkan prestasi murid sekolah
dasarnya. Negara-negara terbaik dalam kategori ini adalah Kanada,
Finlandia, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan.

Lantas, apa persamaan strategi yang dipakai oleh kelima negara tersebut?
Ternyata, menurut McKinsey -perusahaan konsultan yang terbiasa dimintai
advis oleh perusahaan dan pihak pemerintahan-, resepnya hanya tiga:

* Pastikan anda mendapatkan guru dengan kualitas terbaik,

* Ciptakan suasana kondusif agar para guru terpilih tersebut
mengeluarkan kemampuan terbaiknya, dan

* Segera beri bantuan khusus bagi para siswa yang tertinggal, segera
begitu mereka membutuhkannya.

Resep di atas begitu sederhananya sehingga banyak pihak dengan skeptis
bertanya, “Apakah Inggris dan Amerika tidak pernah menerapkannya
sebelumnya?” Ternyata memang tidak.

Berkaitan dengan resep nomor satu, lagi-lagi, ternyata memang uang
bukanlah kunci untuk segalanya. Negara Jerman, Spanyol, Swiss
menyediakan gaji guru lebih tinggi dari rata-rata, tapi hasilnya tidak
seperti yang diharapkan. Sebaliknya, strategi yang dijalankan Singapura
dan Finlandia, misalnya, cukup sederhana: jumlah kursi masuk yang
tersedia di institusi pelatihan menjadi guru (di Indonesia, dulu disebut
IKIP) dibatasi, cukup hanya sebanyak jumlah lowongan pekerjaan yang
tersedia di lapangan. Dengan demikian, saringan masuk menjadi terjaga
kualitasnya, para guru yang lulus dari pelatihan tersebut dijamin
mendapat pekerjaan, negara tidak perlu menyediakan gaji di atas
rata-rata bagi para guru, sementara status profesi guru di masyarakat
pun menjadi tinggi.

Sedangkan pada resep nomor dua, negara Jepang memiliki strategi cukup
unik: mereka menyediakan forum antar guru, sehingga mereka dapat
bertukar informasi, baik keberhasilan dalam menerapkan tips tertentu
dalam mengajar maupun kesulitan praktis yang dihadapi di lapangan. Ini
berbeda dengan di Amerika, misalnya, di mana kesuksesan seorang guru
yang inovatif tidak menular ke guru-guru lainnya, karena memang tidak
ada wadah yang kondusif untuk itu.

Resep yang ketiga diimplementasikan oleh Singapura, misalnya, dengan
cara menyediakan kelas khusus bagi para siswa yang performansinya
termasuk paling rendah di kelasnya. Dalam kelas-kelas khusus ini, para
guru berdedikasi membantu para siswa hingga setelah jam sekolah usai.

Sekali lagi, tiga resep di atas mematahkan asumsi bahwa uang adalah
segalanya, termasuk untuk memecahkan lingkar masalah di dunia
pendidikan. Nah, bagaimana dengan di Indonesia? Pertanyaan yang
dilontarkan di awal artikel ini, yaitu “apakah mungkin Indonesia
memiliki siswa-siswa yg nomor satu cerdasnya?” bisa dijawab dengan
mencoba menilik sejauh mana negara kita telah mencoba menerapkan tiga
resep tersebut.

(*) Disadur dari artikel yang dimuat di Economist.com:
http://www.economist.com/PrinterFriendly.cfm?story_id=9989914

*PENGANTAR PENDIDIKAN*

*ILMU PENDIDIKAN*

Ilmu Pendidikan memerlukan landasan keilmuan karena pendidikan dapat
dijadikan pijakan, arah, serta pilar utama terhadap pengembangan
manusia, Bangsa dan Negara untuk selalu berwawasan luas demi tercapainya
cita-cita bangsa. Bagi bangsa Indonesia pendidikan diharapkan bias
mengusahakan pembangunan manusia pancasila sebagai manusia yang tinggi
kualitasnya dan mampu untuk mandiri. Landasan keilmuan itu juga sebagai
pemberi dukungan bagi perkembangan masyarakat. Sehingga Ilmu Pendidikan
dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

*LANDASAN-LANDASAN YANG RELEVAN*

*Landasan Filosofis*

Landasan yang berkaitan dengan makna atau hakekat pendidikan, menelaah
masalah-masalah pokok seperti apakah pendidikan itu, mengapa pendidikan
diperlukan, apa yang seharusnya menjadi tujuannya, dan sebagainya.

*Landasan Sosiologis*

Kegiatan pendidikan yang merupakan suatu proses interaksi antara dua
individu, bahkan dua generasi, yang memungkinkan generasi muda
mengembangkan diri.

*Landasan Budaya*

Landasan yang mempelajari tingkah laku yang dapat diterima kemudian
menerapkan tingkah lakunya itu sendiri. Menjadikan anak sebagai anggota
masyarakat. Landasn ini juga bertujuan agar pendidikan di Indonesia
mengutamakan keseimbangan, keserasian dan keselarasan antara aspek
pelestarian nilai-nilai luhur sosial, kebudayaan, dan aspek-aspek
pengembangan.

*Landasan Psikologi*

Landasan yang berkaitan dengan pemahaman peserta didik, utamanya aspek
kejiwaan. Psikologi menyediakan informasi tentang kehidupan pribadi
manusia serta gejala-gejala aspek pribadi.

*Landasan Ekonomi*

Landasan ini membahas tentang budaya yang diperlukan dalam pandidikan,
hasil dari pendidikan yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan sebagainya.

*Landasan Agama*

Landasan Agama dalam pendidikan memberikan keterangan bahwa agama
berasal dari wahyu yang gerasal dari tuhan(dalam hal ini agama bersifat
residental). Dengan landasan ini diharapkan pendidikan sesuai dengan
nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku pada agama.

*Antropologi*

Landasan ini berkaitan dengan landasan budaya. Dengan adanya landasan
antropolgi,peserta didik dapat mengetahui kebudayaan daerah lain.

*Hukum*

Dengan adanya landasan ini setiap orang akan lebih berhati-hati dalam
melakukan kegiatan(berkenaan dengan perilakunya). Jika ia melanggar maka
ia akan dikenai hukuman atau sanksi sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

*Politik*

Landasan politik penting untuk melatih jiwa masyarakat,berbangsa dan
bertanah air dan juga dap[at dimaknai sebagai suatu studi untuk
mengkritisi suatu system pemerintahan dan pemerintah yang bila
memungkinkan melakukan penyimpangan amanat.

Rabu, 30 November 2011

Uang Bukan Kunci Perbaikan Kualitas Pendidikan

Anggaran pendidikan sering dituding sebagai penyebab morat-maritnya
pendidikan di Indonesia. Betulkah demikian? Apakah dengan uang maka
otomatis pendidikan akan membaik?

Beberapa hari lalu, dalam sebuah percakapan di salah satu milis yang
saya ikuti, timbul pertanyaan seperti ini, “Apakah mungkin Indonesia
memiliki siswa-siswa yang nomor satu cerdasnya?”. Sebuah pertanyaan yang
mungkin terasa sederhana, bahkan tidak baru. Tapi sangat kuat
mengisyaratkan kepedulian sang penanya akan nasib masa depan Indonesia.
Untuk mencari jawabnya, kita perlu lebih dulu melontarkan pertanyaan
awalan: negara mana sajakah yang sukses dalam mendidik siswanya, dan apa
kiat yang mereka pakai?

Banyak orang berasumsi bahwa kualitas pendidikan dapat diperbaiki dengan
uang. Misalnya dengan meningkatkan anggaran pendidikan, seperti yang
dilakukan Inggris. Atau bisa juga dengan menyediakan gaji di atas
rata-rata untuk profesi guru, dengan maksud agar mendapatkan guru-guru
berkualitas, layaknya strategi yang dipakai Amerika. Namun ternyata
kedua negara tersebut bukanlah negara-negara dengan prestasi pendidikan
tertinggi, setidaknya jika dinilai berdasarkan prestasi murid sekolah
dasarnya. Negara-negara terbaik dalam kategori ini adalah Kanada,
Finlandia, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan.

Lantas, apa persamaan strategi yang dipakai oleh kelima negara tersebut?
Ternyata, menurut McKinsey -perusahaan konsultan yang terbiasa dimintai
advis oleh perusahaan dan pihak pemerintahan-, resepnya hanya tiga:

* Pastikan anda mendapatkan guru dengan kualitas terbaik,

* Ciptakan suasana kondusif agar para guru terpilih tersebut
mengeluarkan kemampuan terbaiknya, dan

* Segera beri bantuan khusus bagi para siswa yang tertinggal, segera
begitu mereka membutuhkannya.

Resep di atas begitu sederhananya sehingga banyak pihak dengan skeptis
bertanya, “Apakah Inggris dan Amerika tidak pernah menerapkannya
sebelumnya?” Ternyata memang tidak.

Berkaitan dengan resep nomor satu, lagi-lagi, ternyata memang uang
bukanlah kunci untuk segalanya. Negara Jerman, Spanyol, Swiss
menyediakan gaji guru lebih tinggi dari rata-rata, tapi hasilnya tidak
seperti yang diharapkan. Sebaliknya, strategi yang dijalankan Singapura
dan Finlandia, misalnya, cukup sederhana: jumlah kursi masuk yang
tersedia di institusi pelatihan menjadi guru (di Indonesia, dulu disebut
IKIP) dibatasi, cukup hanya sebanyak jumlah lowongan pekerjaan yang
tersedia di lapangan. Dengan demikian, saringan masuk menjadi terjaga
kualitasnya, para guru yang lulus dari pelatihan tersebut dijamin
mendapat pekerjaan, negara tidak perlu menyediakan gaji di atas
rata-rata bagi para guru, sementara status profesi guru di masyarakat
pun menjadi tinggi.

Sedangkan pada resep nomor dua, negara Jepang memiliki strategi cukup
unik: mereka menyediakan forum antar guru, sehingga mereka dapat
bertukar informasi, baik keberhasilan dalam menerapkan tips tertentu
dalam mengajar maupun kesulitan praktis yang dihadapi di lapangan. Ini
berbeda dengan di Amerika, misalnya, di mana kesuksesan seorang guru
yang inovatif tidak menular ke guru-guru lainnya, karena memang tidak
ada wadah yang kondusif untuk itu.

Resep yang ketiga diimplementasikan oleh Singapura, misalnya, dengan
cara menyediakan kelas khusus bagi para siswa yang performansinya
termasuk paling rendah di kelasnya. Dalam kelas-kelas khusus ini, para
guru berdedikasi membantu para siswa hingga setelah jam sekolah usai.

Sekali lagi, tiga resep di atas mematahkan asumsi bahwa uang adalah
segalanya, termasuk untuk memecahkan lingkar masalah di dunia
pendidikan. Nah, bagaimana dengan di Indonesia? Pertanyaan yang
dilontarkan di awal artikel ini, yaitu “apakah mungkin Indonesia
memiliki siswa-siswa yg nomor satu cerdasnya?” bisa dijawab dengan
mencoba menilik sejauh mana negara kita telah mencoba menerapkan tiga
resep tersebut.

(*) Disadur dari artikel yang dimuat di Economist.com:
http://www.economist.com/PrinterFriendly.cfm?story_id=9989914