Suryamu

Inspirasi,Motivasi,Pendidikan dan Pengetahuan

Rabu, 21 Oktober 2026

SD Muhammadiyah Rabbani Ikuti Seminar Nasional CEFR, Mantapkan Langkah Menuju Sekolah Bilingual 2026/2027


Solo, 1 Oktober 2026 – Komitmen untuk menjadi sekolah berwawasan global terus ditunjukkan SD Muhammadiyah Rabbani. Tim Pengembang Sekolah, Dr. Rintik Sunariati, M.Pd dan guru Bahasa Inggris Safitri Nur Rohyani, S.HI, S.Pd, mengikuti Seminar Nasional bertema _“Standarisasi Mutu Bahasa Asing Siswa Berbasis CEFR: Menuju Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Berwawasan Global”_ yang diselenggarakan di Megaland Hotel Solo.

Seminar yang didukung oleh National Geographic Learning dan PT Sentra Eduglobal ini menghadirkan tiga narasumber utama:
1.  Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., Ph.D. – Ketua Pusat Bahasa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada
2.  Ahmad Afandi – Account Manager National Geographic Learning Indonesia
3.  Hony Steward Tunggajaya – Director of PT Sentra Eduglobal

Kegiatan ini diikuti oleh puluhan perwakilan sekolah dan madrasah Muhammadiyah dari berbagai daerah yang memiliki visi yang sama dalam peningkatan mutu bahasa asing.

Dalam seminar tersebut dibahas pentingnya standarisasi kemampuan bahasa Inggris siswa berbasis *CEFR (Common European Framework of Reference for Languages)* sebagai acuan internasional. Standarisasi ini mencakup kurikulum, metode pembelajaran, asesmen, serta sertifikasi guru dan siswa agar kualitas lulusan dapat bersaing di tingkat global.

Partisipasi Tim Pengembang SD Muhammadiyah Rabbani menjadi langkah strategis dalam rangka persiapan *SD Muhammadiyah Rabbani sebagai Sekolah Bilingual pada Tahun Ajaran 2026/2027.* Melalui seminar ini, sekolah mendapatkan wawasan komprehensif mengenai peta jalan (roadmap) implementasi program bilingual, mulai dari penguatan kompetensi guru, pemilihan materi ajar berbasis internasional seperti National Geographic Learning, hingga sistem evaluasi berbasis CEFR.

Dr. Rintik Sunariati, M.Pd menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam seminar ini adalah bagian dari ikhtiar sekolah untuk tidak hanya unggul dalam IMTAQ dan IPTEK, tetapi juga siap mencetak generasi yang _Berakhlak Mulia, Berprestasi, dan Siap Masa Depan_ dengan penguasaan bahasa asing yang mumpuni, tentunya tidak melupakan ISMUBA yang menjadi ciri khusus sekolah.

Diharapkan, hasil dari seminar ini dapat segera ditindaklanjuti dalam bentuk MoA, penyusunan kurikulum bilingual, pelatihan guru, dan sosialisasi kepada orang tua/wali murid sebagai bagian dari persiapan besar SD Muhammadiyah Rabbani menyongsong tahun ajaran 2026/2027.(Humas SD Muhammadiyah Rabbani)


UPGRADING GTK MENUJU RABBANI BERKEMAJUAN - SD MUHAMMADIYAH PK RABBANI GELAR REFRESHING EDUKATIF DI PANTAI SUNDAK GUNUNGKIDUL

UPGRADING GTK MENUJU RABBANI BERKEMAJUAN - SD MUHAMMADIYAH PK RABBANI GELAR REFRESHING EDUKATIF DI PANTAI SUNDAK GUNUNGKIDUL

*Yogyakarta, 17 Oktober 2026* – Dalam rangka memperkuat soliditas, rasa syukur, dan implementasi Visi Generasi Unggul, Berkarakter Islami, Berwawasan Lingkungan, SD Muhammadiyah Program Khusus Rabbani Berkemajuan menggelar kegiatan *Upgrading GTK Menuju Rabbani Berkemajuan Tahun Ajaran 2026/2027* pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Kegiatan yang diikuti oleh seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) ini mengambil lokasi di kawasan Pantai Sundak, Gunung Kidul, DIY. Kegiatan ini menjadi momentum istimewa karena dirangkai dengan acara ramah tamah, estafet kepemimpinan dari Kepala Sekolah ke-3 kepada Kepala Sekolah ke-4, serta pemberian penghargaan kepada GTK berprestasi.

Kepala SD Muhammadiyah PK Rabbani, *Qodarul Laili, S.E*, dalam keterangannya menyampaikan bahwa upgrading tahun ini dikonsep berbeda.

"Upgrading bukan sekadar healing atau jalan-jalan. Ini adalah bentuk syukur kami atas nikmat ukhuwah dan amanah mendidik. Kami ingin semua GTK kembali dengan Growth Mindset - mindset kaya yang tidak mengeluh atas keterbatasan, tapi kreatif mencari solusi. Ini yang kami butuhkan untuk mewujudkan visi Rabbani Berkemajuan," ungkapnya.

Rangkaian acara dimulai pukul 05.45 WIB dengan kedatangan GTK, foto bersama, dan doa pelepasan, Perjalanan menuju Gunung Kidul diisi dengan tilawah dan kebersamaan di dalam bus.

Setibanya di lokasi pukul 09.15 WIB, acara pembukaan dan seremoni dilaksanakan oleh Us Anna Fitriya, S.PdI, Us Adelia Ulfatunisa, S.Pd dan Ust Rian Kusuma  Atmaja, S.Pd.  Kegiatan utama diisi dengan Explore Pantai Sundak Tengah, Ishoma bersama, dan puncak acara yaitu *Ramah Tamah dan Refleksi Kepemimpinan* yang dipandu MC Ust Adi Wiyana, S.Psi, M.Pd

Pada sesi ramah tamah tersebut, diawali dari Drs. H. Sudibyo Hardiyono sebagai KS ke 2 SD Muhammadiyah PK Rabbani memberikan  semangat untuk kemajuan Rabbani di 18 tahun berdiri dan banyak membawa perkembangan kemajuan pendidikan. Secara simbolis dilaksanakan prosesi estafet kepemimpinan KS 3 SD MPK Rabbani Dr. Rintik Sunariati, M.Pd ke KS 4 Qodarul Laili, S.E. sebagai simbol keberlanjutan perjuangan, serta pengumuman *Guru Teladan, Karyawan Teladan, dan GTK Terdisiplin* sebagai bentuk apresiasi sekolah atas dedikasi dan itqan dalam bekerja.

 Uniknya, kegiatan ini menerapkan nilai peduli lingkungan sesuai visi sekolah, yaitu peserta wajib membawa tumbler, membungkus kado tukar kado dengan kertas kalender bekas, dan memakai dresscode olahraga biru yang seragam.
Melalui Up greading GTK, harapannya ukhuwah semakin erat, pembelajaran di kelas semakin inovatif, dan Rabbani semakin Berkembang.

*Hormat kami,*
*Humas SD Muhammadiyah PK Rabbani*

Minggu, 18 Oktober 2026

Memaknai Cinta dalam Bingkai Takwa

Memaknai Cinta dalam Bingkai Takwa




Oleh Bahrus Surur-Iyunk, Kader Muhammadiyah lulusan Pondok Modern Muhammadiyah Paciran, Penulis Tetap Rubrik Bina Akidah Majalah Suara Muhammadiyah

Islam mengajarkan umatnya untuk saling mencintai dengan penuh ketulusan. Islam juga mendorong umatnya untuk menumbuhkan rasa cinta yang sejati. Yaitu, cinta kepada Allah, yang kemudian memancar menjadi cinta kepada sesama manusia dan seluruh ciptaan-Nya. Mencintai Allah dengan tulus akan melahirkan kasih sayang, kepedulian, dan solidaritas sosial yang kuat. Maka, cinta kepada sesama adalah refleksi dari cinta kepada Tuhan.

Dalam Islam, cinta kepada Allah tidak hanya berhenti pada ritual pribadi. Ia harus diwujudkan dalam bentuk cinta kepada keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dan tanah air. Karena itulah, shalat berjamaah lebih besar pahalanya daripada shalat sendirian bukan semata-mata karena jumlah rakaatnya, tetapi karena ada nilai kebersamaan dan persaudaraan di dalamnya. Islam sangat menjunjung tinggi nilai kolektif, kerja sama, dan kasih sayang di antara umat manusia.

Sesama Muslim adalah saudara. Persaudaraan ini bukan sekadar kata-kata, melainkan harus dibuktikan dalam keseharian: dengan saling mengucap salam, saling menjaga, menghargai, dan menghindari prasangka buruk. Sebab, hati yang bersih tidak akan melahirkan kebencian, sekecil apapun.

Cinta kepada istri, suami, anak, dan keluarga pun merupakan bagian dari ibadah, bagian dari wujud takwa dan cinta kepada Allah. Tidak pantas seseorang mengaku bertakwa tetapi masih menyimpan dendam, bersikap sinis, dan bermuka masam kepada orang lain. Rasulullah ﷺ telah memberikan keteladanan yang sempurna. Dalam waktu 23 tahun, beliau berhasil membangun masyarakat Arab yang awalnya keras menjadi umat yang berakhlak mulia. Itu semua terjadi bukan karena perintah semata, tetapi karena Rasulullah sendiri lebih dulu menjalankan apa yang beliau serukan. Keteladanan adalah kunci perubahan.

Dalam konteks bangsa, cinta kepada tanah air juga bagian dari iman. Maka, dalam situasi Indonesia yang masih penuh tantangan seperti praktik korupsi dan ketidakadilan, mencintai negeri ini berarti menjaga dan tidak menyakitinya. Korupsi, kolusi, dan perusakan alam adalah bentuk pengkhianatan terhadap cinta tanah air. Indonesia adalah sajadah tempat kita bersujud dan beribadah. Maka, jangan kotori sajadah ini dengan perilaku yang merusak.

Cinta yang dibingkai dengan takwa adalah cinta yang suci, yang mendorong setiap individu menjadi lebih baik bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan negerinya. Inilah cinta yang tidak sekadar emosi, tetapi menjadi jalan menuju keridhaan Allah. Wallahu a’lamu .

Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Memaknai Cinta dalam Bingkai Takwa, https://suaramuhammadiyah.id/read/memaknai-cinta-dalam-bingkai-takwa

Alhamdulillah dan Empati Sosial

Alhamdulillah dan Empati Sosial

Oleh: Hatib Rachmawan, Dosen Prodi Ilmu Hadis FAI Universitas Ahmad Dahlan

Beberapa waktu lalu, sebuah kejadian kecil di grup WhatsApp seleksi sertifikasi dosen membuat saya merenung panjang. Begitu pengumuman hasil keluar, beberapa anggota grup dengan cepat menuliskan ucapan selamat dan “alhamdulillah” kepada rekan-rekan yang lulus. Sekilas tampak wajar, bahkan indah: sebuah ekspresi syukur dan apresiasi terhadap kabar baik. Namun, ada yang terasa mengganjal. Bagaimana perasaan mereka yang tidak lulus ketika membaca rentetan ucapan itu?

Saya pun menuliskan komentar: “Apakah kita harus mengucapkan selamat? Sementara 1 atau beberapa orang sedih membaca ucapan selamat di grup ini.” Seketika percakapan grup terhenti. Hening. Saya bisa membayangkan, sebagian mungkin heran dengan komentar itu, sebagian lain barangkali merenung. Tujuan saya sederhana: menjaga roso—kepekaan terhadap perasaan orang lain—agar komunikasi tidak tanpa sadar melukai hati yang tengah rapuh.

Antara Syukur dan Luka

Fenomena semacam ini sering muncul di ruang publik, baik offline maupun online. Dalam sebuah komunitas, kabar gembira selalu berdampingan dengan kabar duka. Ada yang berhasil, ada pula yang belum beruntung. Ketika kita hanya merayakan yang berhasil tanpa menimbang perasaan yang lain, komunikasi bisa berubah menjadi eksklusif. Ucapan selamat yang niatnya tulus justru bisa terasa seperti garam yang ditaburkan ke atas luka terbuka.

Padahal, dalam tradisi keagamaan maupun budaya, mengucapkan selamat dan syukur adalah tindakan mulia. Akan tetapi, sebagaimana setiap kebajikan, konteks menentukan makna. Di ruang publik yang berisi beragam pengalaman—ada yang sukses, ada yang gagal—ungkapan syukur memerlukan kerangka empati agar tidak menyisakan luka sosial.

Psikolog humanis Carl Rogers (1961) mendefinisikan empati sebagai kemampuan untuk “to sense the client’s world as if it were your own”—merasakan dunia orang lain seakan-akan itu dunia kita sendiri. Dalam komunikasi digital, empati berarti berhati-hati memilih kata, menimbang waktu, dan mempertimbangkan audiens yang heterogen.

Ucapan selamat tentu tidak salah, tetapi lebih baik jika dibingkai secara inklusif. Misalnya: “Selamat untuk yang lulus, semoga menjadi inspirasi. Bagi yang belum, semoga diberi kesempatan lebih baik di masa depan.” Dengan cara ini, kita tidak hanya merayakan keberhasilan, tetapi juga merangkul mereka yang masih berproses. Komunikasi tidak sekadar menyampaikan pesan, melainkan membangun solidaritas.

Latah Sosial di Dunia Digital

Ada sisi lain yang tak kalah menarik: fenomena kelatahan sosial. Dalam psikologi sosial, ini dikenal sebagai bandwagon effect atau herd behavior: ketika seseorang melakukan sesuatu (misalnya mengucapkan selamat), anggota lain cenderung menirunya tanpa refleksi kritis. Robert Cialdini (2007) menyebutnya sebagai social proof: manusia terdorong mengikuti mayoritas karena merasa itu jalan aman dan benar.

Di grup WhatsApp, begitu satu ucapan selamat muncul, dalam hitungan menit puluhan ucapan serupa membanjiri layar. Tidak semuanya lahir dari niat personal, sebagian hanya hasil latah digital. Di sinilah persoalan muncul: kelatahan bisa menciptakan suasana semu, di mana kegembiraan mayoritas menutupi kesedihan minoritas.

Latah sosial ini sebenarnya netral. Ia bisa mempercepat solidaritas, bisa pula menyingkirkan empati. Masalahnya bukan pada “alhamdulillah” itu sendiri, melainkan pada hilangnya kesadaran reflektif. Kita sering lupa bertanya: Apakah ucapan saya benar-benar menguatkan, atau sekadar mengikuti arus?

Renungan Kritis

Pengalaman sederhana di grup WA itu memberi saya satu pelajaran penting: komunikasi adalah cermin hati. Kata-kata bisa menjadi penawar, tetapi bisa juga menjadi pisau. “Alhamdulillah” akan tetap indah jika dibarengi empati, bukan sekadar latah menyalin ucapan orang lain.

Barangkali, di era digital ini, tantangan kita bukan lagi bagaimana mengekspresikan diri, tetapi bagaimana mengekspresikan diri dengan sadar. Setiap kalimat yang kita tulis di ruang publik akan dibaca oleh orang-orang dengan latar perasaan yang berbeda. Ada yang sedang bahagia, ada yang sedang kecewa. Menulis dengan empati berarti mengingat bahwa pesan kita tidak hanya bergaung ke ruang hampa, melainkan menembus hati manusia yang nyata.

Pada akhirnya, komunikasi yang sehat bukan soal siapa yang paling cepat mengucapkan selamat, atau siapa yang paling religius menuliskan “alhamdulillah”. Komunikasi yang sehat adalah yang mampu menghadirkan kenyamanan kolektif, memberi ruang bagi kegembiraan sekaligus melindungi mereka yang tengah terluka.

Mari belajar berhenti sejenak sebelum menulis. Mari menimbang kata-kata dengan empati. Sebab di balik setiap “alhamdulillah”, ada tanggung jawab sosial untuk memastikan bahwa syukur kita tidak melukai, tetapi merangkul semua.

Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Alhamdulillah dan Empati Sosial, https://suaramuhammadiyah.id/read/alhamdulillah-dan-empati-sosial

Menjemput Rezeki

Menjemput Rezeki




Oleh: Hari Ashari, Pengajaran SMP Muhammadiyah Turi Sleman DIY

Rezeki. Menjadi urusan yang menyibukkan kita. Siang-malam. Bahkan tidak jarang kita bekerja sampai lembur, juga untuk mendapatkan rezekii. Bahkan obrolan kita dengan orang lain, juga tidak jauh-jauh dari rezeki. Dari urusan makan minum, tempat tinggal, sekolah anak-anak kita, HP kita sampai kendaraan. Semuanya berusuran dengan rejeki. Namun ternyata rezeki tidak selalu berupa harta. 

Dr. Abad Badruzaman dalam bukunya Ayat-ayat Rezeki mengatakan. Bahwa Rezeki itu termasuk harta, benar. Namun menyitir pendapat Ibn Manshur dalam Lisan al Arab mendefinisan rezeki sebagai Apa yang dengannya setiap makhluk hidup baik secara materi maupun maknawi. Maka termasuk rezeki adalah keimanan, kecintaan kita kepada para nabi dan rasul, cinta ilmu, istri yang solehah, anak yang soleh, kesehatan, bisa puasa sunnah adalah rezeki.

Maka dalam Al-quran sampai dikatakan, jika kita hendak menghitung nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita, maka tidak akan pernah bisa. Saking banyaknya. Namun Allah swt mengatakan, Qalilam maa tasykurun. Sedikit sekali yang mau bersyukur.

Istilah Rezeki, Abad Badruzaman menyebut dalam Al-quran banyak kata bentukannya. Bahkan kata rezeki ditemukan di 123 tempat. 61 disampaikan dalam bentuk fi'il ( kata kerja ). Misalnya dala QS. Al Maidah (5): 88. Sedangkan 62 kali rezeki disebut dalam bentuk ism ( kata benda ). Seperti QS. Al Baqarah (2): 60.

Beberapa makna rezeki yang terkadung dalam Al-quran diantaaranya adalah Al-Azha' artinya pemberian atau anugrah. Al-Tha'am ( Makanan ), Al-Mathar ( Hujan ), Al-Nafaqah ( Nafkah ), Al-Tsawab ( Pahala ) bahkan rezeki bisa nasuk dalam kategori Al-Jannah ( syurga ). Masih ada beberapa yang lain ada 8 makna. Sifat agung lain dari nama-nama Allah adalah Al-Razzaq. Maha pemberi rezeki. Bisa juga berarti yang menanggung. yang menjamin apa yang membuat setiap orang dapat berdiri atau hidup. Rezeki dan kasih sayang-Nya meliputi semua makhluk. Tidak peduli dia beriman atau kafir. Dia menjadi sahabat nabi atau musuhnya. Semua yang ada di langit dan di bumi dilimpahi rezeki. Allah bahkan memberikan rezeki kepada kita tanpa sebab. Tanpa meminta. QS. Adzariyat (51):58 - Sesungguhnya Allah, Dialah Maha pemberi rezeki Yang memiliki kekuatan lagi sangat kokoh.

Bedanya kalau kita beriman, rezeki yang diberikan kepada Allah adalah untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya. Dengan berbagai cara dan upaya kita lakukan untuk menjemput rezeki, muaranya satu yaitu untuk beribadah kepada-Nya. QS. Adzariyat (51) : 56. Bedanya lagi ada yang rezeki itu kita harus jemput dengan bekerja, namun ada juga rezeki yang menjemput kita. Wallahu 'alam.

Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Menjemput Rezeki, https://suaramuhammadiyah.id/read/menjemput-rezeki




Kekuatan Ikhtiar Wujudkan Mimpi Jadi Kenyataan Indah

Kekuatan Ikhtiar Wujudkan Mimpi Jadi Kenyataan Indah



Oleh: Dr. Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag., Ketua Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta, Sekretaris PDM Wonogiri

Setiap saat kita bertemu dengan berbagai pribadi, ada pribadi yang biasa-biasa kalau diamati. Namun begitu kita bisa membuka pembicaraan dan berkomunikasi, mereka seperti mutiara yang terpendam dalam lubuk terdalam, ternyata mereka menyimpan mimpi besar yang belum selesai diwujudkan.

Setiap orang pasti punya harapan dan cita dalam kehidupan ini. Setiap orang mempunyai mimpi, mempunyai keinginan, bahkan keinginan manusia merupakan keinginan yang tak terbatas, sejauh manusia memimpikan sesuatu akan bisa terwujud tergantung ikhtiar dan usaha untuk merealisasikan. 

Manusia makhluk yang berakal dan kaya akal, baik akal bulus atau akal murni yang dijalankan dalam meraih mimpi-mimpi indah jadi kenyataan. Seseorang itu tergantung mimpinya. Banyak kasus orang biasa dan berani mimpi besar dan terus berikhtiar dari yang kecil dan sederhana langkahnya, terus terasah dan terus dievaluasi langkah-langkahnya, terus evaluasinya dengan berbagai pendekatan dan cara hingga menggunakan kerangka teori yang canggih, akhirnya bisa tembus menjadi kenyataan indah dan terwujud menjadi berkah peradaban luhur manusia.

Itulah kekuatan mimpi yang menjadi visi, misi dan diwujudkan secara fokus pada target dan tujuan yang akan diraih. Setiap langkah dikonsep dengan jelas, hingga tahapan detail dan rinci tidak ada celah kesalahan dalam implementasinya. 

Begitu ada kesalahan terus dievaluasi dan diperbaiki dengan sejuta ide berikutnya yang makin menggila. Pikiran akan terus berkembang sesuai dengan respons yang luar biasa. Semakin besar respons positifnya, maka akal akan bekerja dengan dinamika dan bergemuruhnya keinginan dalam hati dan benak yang dituangkan menjadi desain rekayasa yang kuat, maka akan menjadi proyek yang 50 % sudah memberikan jamin kesuksesan, tinggal apa pekerjaan dan aksi yang dijalankan berikutnya.

Mimpi-mimpi indah bersamamu jadi kenyataan hidup ini. Bagaimana kita mampu mewujudkan konsep yang bagus, sejauh mana kekuatan kita untuk mendobrak mental blok dan mengatasinya dengan taktis dan strategis diwujudkan dalam setiap derap langkah kehidupan mewujudkan mimpi jadi kenyataan hidup ini.

Mewujudkan mimpi jadi kenyataan memang butuh kerja keras dan strategi yang tepat. Pertama, kita harus mulai dengan mengidentifikasi mental blok yang menghambat kita. Apakah itu rasa takut, keraguan, atau kurangnya kepercayaan diri? Setelah kita tahu apa yang menghambat, kita bisa mulai mencari solusi untuk mengatasinya. Solusi akan banyak alternatif yang berkecamuk dalam akal pikiran, maka Ketika kita braindstorming – cara bagaimana kita menemukan ide. Lakukan tanpa ragu dan tuangkan dalam grafis atau draf yang bebas kita mengartikulasikan, bila telah sampai pada titik jenuh, kita mulai melakukan seleksi dan mengambil yang realitas dan dituangkan menjadi langkah-langkah kecil yang sangat berpengaruh terhadap hasil dalam proses berjalan.

Salah satu cara untuk mengatasi mental blok adalah dengan mengubah pola pikir kita. Kita harus fokus pada kemungkinan dan peluang, bukan pada hambatan dan kesulitan. Kita juga harus percaya pada diri sendiri dan kemampuan kita untuk mencapai tujuan.

Hambatan yang sering kita jumpai pada diri individu, selalu toleran dalam keadaan dan mencari dalih untuk melemahkan dan menggagalkan. Tapi bila mampu menerobos dinding mental blok kenyataannya adalah hanya bayangan dan angan-angan negatif. Bisa kita tembus dengan kepercayaan diri maka akan bertemu dengan solusi dan langkah suksesnya. Sekian banyak pilihan yang harus kita mengambil keputusan secara bertanggung jawab terhadap ide awal dan perwujudannya dalam realitas kenyataan hidup.
sumber: suaramuhammadiyah.id

Selain itu, kita juga perlu membuat rencana yang strategis dan taktis untuk mencapai tujuan. Kita harus memecah tujuan besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dicapai. Dan kita harus konsisten dalam menjalankan rencana tersebut, tidak mudah menyerah.

Mental tangguh menjadi karakter yang melekat pada para the winner sejati, mereka mampu menaklukkan dengan bayangan sendiri, mereka mampu mengambil keputusan pertama yang berani dan istiqomah dalam merealisasikan.

Jangan lupa, kita juga perlu mencari dukungan dari orang-orang yang positif dan mendukung kita. Mereka bisa menjadi sumber motivasi dan inspirasi bagi kita. Ekosistem dan mentalitas di lingkungan kita harus dipandang sebagai positif. Bila bertemu dengan pribadi pesimis bisa menjadi auto kontrol yang dapat digunakan sebagai bahan analisis, terhadap orang yang selalu meremehkan dan tidak percaya pada kemampuan seseorang. Namun bila kita bertemu dengan pribadi luhur, kharisama dan selalu membawa aura positif, mereka bila bertemu dengan orang-orang akan memberikan pengaruh dan transformasi karakter yang mendalam kepada lawan bicaranya. 

Orang yang seperti inilah yang dapat mempengaruhi daya juangnya. Kata-katanya seperti magic word karena merupakan kristalisasi butir-butir keringat dan kristalisasi dari ikhtiar usaha tanpa lelah. Pengaruh positif sangat kuat membekas dari sedikit dialog dan diskusi yang dikeluarkan. Kata-katanya membuat orang teringiang-ngiang, mereka menceritakan perjalanan hidupnya dengan darah dan air mata yang memberikan kekuatan batin. 

Menjadi motivator sekaligus sebagai barometer keberhasilannya dalam mengimplementasikan mimpi-mimpi indah bersamamu menjadi kenyataan hidup yang indah mempesona. Berani bermimpi dan mewujudkannya. Be the best for your life.

Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Kekuatan Ikhtiar Wujudkan Mimpi Jadi Kenyataan Indah, https://suaramuhammadiyah.id/read/kekuatan-ikhtiar-wujudkan-mimpi-jadi-kenyataan-indah


Relevansinya Etika dalam Kehidupan

Terkadang sesuatu yang sepele dan remeh banyak diabaikan orang. Tapi sesungguhnya berdampak besar dalam kehidupan. Soal etika misalnya. Semua orang mafhum mengenai etika. Sudah pasti sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, etika menjadi pelajaran yang niscaya diperoleh. Tapi persoalannya, adakah di antara kita telah mengejawantahkan etika dalam kehidupan dengan sebagaimana semestinya?

Fakta berbicara terbuka, di mana masih banyak orang belum memahami etika secara utuh, lebih-lebih mempraktikkannya. Setiap tarikan napas kehidupan, etika tidak bisa dilepaskan. Etika laksana magnet yang selalu menyatu dalam denyut nadi kehidupan kita sehari-hari. Etika tidak pernah hilang dari kehidupan, Ia merepresentasikan perangai manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Kita seyogianya jengah, banyak orang cerdas tapi minus etika. Banyak orang rupawan dan kirana, namun sama sekali tidak beretika. Inilah realitas getir yang terlukis dalam kanvas kehidupan masa kini dan menjadi paradoks bilamana menetap di negeri idaman seperti Indonesia. Negeri yang terkenal dengan tindak tanduknya, tapi belakangan tampak jauh panggang dari api.

Panorama luruhnya etika memang bukan fenomena baru. Tapi, ini fenomena lama, namun bila tidak segera diperbaiki, yang terjadi negeri ini porak-poranda akibat masyarakatnya bertindak serampangan hatta tercerabutnya etika dalam dirinya. Etika sebagai jangkar kehidupan. Dan segenap orang tua niscaya telah memberikan pengajaran luhur ini kepada anak-anaknya. Tinggal bagaimana anak-anaknya merespons dan mengimplementasikannya.

Etika sangat mendalam sekali substansinya. Etika tidak hanya sekadar menyangkut soal individu di lingkungan masyarakat, termasuk di lingkungan kerja. Dalam konteks lingkungan kerja, etika sangat dinomorsatukan. Bekerja tidak berlandaskan etika, maka akan merugikan diri sendiri. Etika menjadi gambaran cara seseorang bekerja. Ketika etika saja sudah tidak bagus, bekerjanya pun pasti tidak bagus jua, lebih-lebih bekerja dalam tim, hanya menjadi batu penarung semata.

Diakui, Islam menempatkan pada posisi tertinggi ihwal etika. Segala gerak kehidupan di muka bumi, telah sedemikian rupa diletakkan etikanya. Ajaran Islam sangat komprehensif membingkai etika mulai dari etika bertamu, etika makan-minum, etika berbicara, etika berpakaian, dan masih banyak lagi. Islam menekankan agar manusia dapat menjalani kehidupan mengedepankan etika. Saat ini terjadinya krisis etika menjadikan kita untuk mendekonstruksi pemahaman keislaman agar menemukan substansi ajaran luhur secara utuh, sehingga tidak dipahami secara parsial.

Pemahaman keislaman secara parsial itulah menyebabkan keolengan berpikir dalam memahami bahkan menjalankannya. Alhasil, etika tidak terpatri dalam gerak kehidupan tak pelak melahirkan perilaku nista dari ajaran Islam yang membawa pencerahan itu. Maka, perlu mengoreksi sejauh mana etika telah kita praktikkan secara nyata. Ini sebuah pekerjaan tidak mudah dilakukan, tapi selagi ada kemauan pasti ada jalan kemudahan.

Hidup ada etikanya, jangan semaunya. Semesta ini sudah ada aturannya, tinggal bagaimana kita melaksanakannya. Penyimpangan terhadap etika hanya akan membuat hidup amburadul akibatnya jauh dari yang dicita-citakan. Yakni hidup berkeadaban melahirkan manusia berintegritas sehingga dapat mencerahkan jagat semesta raya

Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Relevansinya Etika dalam Kehidupan, https://suaramuhammadiyah.id/read/relevansinya-etika-dalam-kehidupan