Suryamu

Inspirasi,Motivasi,Pendidikan dan Pengetahuan

Minggu, 29 Januari 2012

Bagaimana mau menggapai mimpi, Jika tidak mau berkorban


Bagaimana mau menggapai mimpi, Jika tidak mau berkorban

Pengorbanan, Sebenarnya tulisan ini saya dapat ide ketika saya main ke pasar induk kramat jati, untuk membeli buah durian, salah satu buah kesukaan saya. ketika itu saya melihat seorang sepuh yang sudah tua masih bekerja sebagai kuli angkut. dilain pihak dalam hidup ini kita memang memerlukan pengorbanan. dan kakek tua itu bilang dia berkorban agar anaknya dapat lebih sukses dari dia. suatu pengorban yang luar biasa.

Dalam menggapai mimpi atau meraih kesukesan pun banyak pengorbanan yang harus kita lakukan. Kesuksesan ternyata bukan hal yang gratis, ada suatu hal yang harus dibayar untuk mendapatkannya, yaitu pengorbanan. jika kita ingin mendapatkan kesuksesan maka kita harus menemukan dulu apa yang harus
dibayarkan untuk mendapatkannya. Bukan hal yang sulit sih sebenarnya tetapi membutuhkan komitment serta disiplin yang tinggi untuk melaksanakannya.

kesuksesan membutuhkan sebuah proses. Sayangnya,banyak orang yang ingin menggapai kesuksesan namun tidak mau menjalani proses yang ada. Kehidupan modern yang serba instant terkadang membuat kita lupa bahwa segala sesuatu membutuhkan proses.Mana mungkin kita dapat menikmati buah durian yang lezat sehari setelah kita berkorban untun menanam bijinya, setelah kita berkorban untuk memupuk, menyiram serta merawatnya dengan baik sehingga biji tersebut dapat tumbuh menjadi pohon dan berbuah lebat. dan proses untuk menjadi sukses adalah sebuah pengorbanan- pengorbanan yang harus kita lakukan.

Pengorbanan memiliki hubungan yang berbanding lurus dengan kesuksesan, artinya semakin besar kesuksesan yang kita inginkan maka semakin besar pula pengorbanan yang harus kita berikan. bisa berupa pengorbanan waktu, biaya, usaha yang maksimal Contoh lain, jika kita pelajar atau mahasiswa, kita
perlu belajar giat, dengan mengorbankan waktu untuk belajar, mengorbankan uang untuk membeli buku, mengorbankan fikiran untuk dapat memahami dan belajar, dan jika pengorbanan telah dilakukan maka peluang kita untuk sukses semakin besar. Semakin besar pengorbanan, semakin besar kemungkinan
kesuksesan.

Orang-orang sukses senantiasa mengisi waktu mereka dengan kegiatan yang semakin mendekatkan mereka kepada impian mereka. Sementara orang yang tidak mau sukes sedang asyik bermain atau membuang waktu,

Jika Anda mau melakukan apa yang tidak mau dilakukan orang lain, tentu Anda bisa
memperoleh apa yang tidak diperoleh orang lain. Orang-orang sukses bukanlah manusia super. Mereka hanyalah orang yang mau melakukan sesuatu sementara orang lain menolaknya.

Orang-orang sukses juga berkorban dalam hal keuangan. Sementara orang lain tidak merencanakan penggunaan dana yang dimilikinya, seorang yang sukses mengorbankan uang untuk hal-hal yang bermanfaat dalam rangka menggapai kesuksesaanya. Orang sukses sepenuhnya sadar kalau uang dikeluarkannya adalah sebuah investasi demi membangun masa depannya.

Pengorbanan lain misalnya adalah dalam hal tenaga. Ada orang yang menghabiskan energinya hanya untuk melakukan aktivitas yang sesungguhnya tidak berguna, seperti melamun atau bermalas-malasan. "Things may come to those who wait, but only the things left by those who hustle." Ya, banyak hal yang bisa didapatkan oleh mereka yang kerjanya hanya menunggu, namun hal-hal yang disisakan oleh mereka yang giat dalam bekerja.

kesukesasan menuntut adanya pengorbanan dan pengorbanan di butuhkan niat-niat baik, Apakah kita sudah merasa puas dengan apa yang kita alami sekarang enggan untuk berubah dan mau meninggalkan hal-hal yang nyaman (comfort zone kita).

Orang-orang sukses juga kerap harus berkorban dalam hal perasaan. Mereka kerap harus kuat, tabah dan tahan mental menghadapi cercaandan penghinaan, termasuk dari orang-orang yang dekat dengan mereka. Terkadang mungkin akan timbul rasa malu ketika bertemu dengan rekan-rekan sebaya mereka yang sudah
lebih dulu berhasil, namun rasa maluitu tidak menyurutkan langkah mereka untuk terus berjuang. Merekasenantiasa berpegang teguh pada harapan akan masa depan yang lebih baik.

Takkan ada sukses tanpa pengorbanan. siapa yang ingin mencapai sedikit harus berkorban sedikit siapa yang ingin mencapai banyak harus berkorban banyak.
"There's always something about your success that displeases even your best friends. Success and suffering are vitally and organically linked. If you succeed without suffering, it is because someone suffered for you; if you suffer without succeeding, it is in order that someone else may succeed after you"

Tidak ada sesuatu yang berharga diperoleh tanpa pengorbanan. Hidup dipenuhi dengan kejadian-kejadian kritis ketika Anda akan mendapat kesempatan untuk menukarkan milik Anda yang berharga dengan yang lainnya.
Tetap buka mata untuk kejadian-kejadian seperti itu dan selalu pastikan Anda sedang naik
bukan turun.

Jadi apapaun mimpi anda yang akan anda gapai, baik mimpi sukses dalam pelajaran, pekerjaan, bisnis, percintaan, rumah tangga, semua memerlukan pengorbanan. jadi jangan takut untuk berkorban untuk menggapai mimpi kita.

"Setiap orang yang sukses pasti meraih tujuannya melalui perjuangan dan pengorbanan. "

3 Langkah Menjadi Manusia Terbaik

3 Langkah Menjadi Manusia Terbaik

Dari dakwatuna.com - Ada hadits pendek namun sarat makna dikutip Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir. Bunyinya, “Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” Terjemahan bebasnya: sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.
Derajat hadits ini ini menurut Imam Suyuthi tergolong hadits hasan. Syeikh Nasiruddin Al-Bani dalam bukunya Shahihul Jami’ush Shagir sependapat dengan penilaian Suyuthi.
Adalah aksioma bahwa manusia itu makhluk sosial. Tak ada yang bisa membantah. Tidak ada satu orangpun yang bisa hidup sendiri. Semua saling berketergantungan. Saling membutuhkan.
Karena saling membutuhkan, pola hubungan seseorang dengan orang lain adalah untuk saling mengambil manfaat. Ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang lazim. Adil.
Jika ada orang yang mengambil terlalu banyak manfaat dari orang lain dengan pengorbanan yang amat minim, naluri kita akan mengatakan itu tidak adil. Orang itu telah berlaku curang. Dan kita akan mengatakan seseorang berbuat jahat ketika mengambil banyak manfaat untuk dirinya sendiri dengan cara yang curang dan melanggar hak orang lain.
Begitulah hati sanubari kita, selalu menginginkan pola hubungan yang saling ridho dalam mengambil manfaat dari satu sama lain. Jiwa kita akan senang dengan orang yang mengambil manfaat bagi dirinya dengan cara yang baik. Kita anggap seburuk-buruk manusia orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita dengan cara yang salah. Apakah itu menipu, mencuri, dan mengambil paksa, bahkan dengan kekerasan.
Namun yang luar biasa adalah orang lebih banyak memberi dari mengambil manfaat dalam berhubungan dengan orang lain. Orang yang seperti ini kita sebut orang yang terbaik di antara kita. Dermawan. Ikhlas. Tanpa pamrih. Tidak punya vested interes.
Orang yang selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik manusia. Kenapa Rasulullah saw. menyebut seperti itu? Setidaknya ada empat alasan. Pertama, karena ia dicintai Allah swt. Rasulullah saw. pernah bersabda yang bunyinya kurang lebih, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Siapakah yang lebih baik dari orang yang dicintai Allah?
Alasan kedua, karena ia melakukan amal yang terbaik. Kaidah usul fiqih menyebutkan bahwa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi jika spektrumnya lebih luas lagi. Amal itu bisa menyebabkan orang seluruh negeri merasakan manfaatnya. Karena itu tak heran jika para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada Rasulullah, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan. Ketika musim kemarau dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah berkata membuat sumur adalah amal yang paling utama. Saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sudah sepuh dan tidak ada yang merawat, Rasulullah menyebut berbakti kepada si ibu adalah amal yang paling utama bagi orang itu.
Ketiga, karena ia melakukan kebaikan yang sangat besar pahalanya. Berbuat sesuatu untuk orang lain besar pahalanya. Bahkan Rasulullah saw. berkata, “Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada I;tikaf sebulan di masjidku ini.” (Thabrani). Subhanallah.
Keempat, memberi manfaat kepada orang lain tanpa pamrih, mengundang kesaksian dan pujian orang yang beriman. Allah swt. mengikuti persangkaan hambanya. Ketika orang menilai diri kita adalah orang yang baik, maka Allah swt. menggolongkan kita ke dalam golongan hambanya yang baik-baik.
Pernah suatu ketika lewat orang membawa jenazah untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut orang itu sebagai orang yang tidak baik. Kemudian lewat lagi orang-orang membawa jenazah lain untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut kebaikan si mayit. Rasulullah saw. membenarkan. Seperti itu jugalah Allah swt. Karena itu di surat At-Taubah ayat 105, Allah swt. menyuruh Rasulullah saw. untuk memerintahkan kita, orang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal agar Allah, Rasul, dan orang beriman menilai amal-amal kita. Di hari akhir, Rasul dan orang-orang beriman akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita seperti yang mereka saksikan di dunia.
Untuk bisa menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain, kita perlu menyiapkan beberapa hal dalam diri kita. Pertama, tingkatkan derajat keimanan kita kepada Allah swt. Sebab, amal tanpa pamrih adalah amal yang hanya mengharap ridho kepada Allah. Kita tidak meminta balasan dari manusia, cukup dari Allah swt. saja balasannya. Ketika iman kita tipis terkikis, tak mungkin kita akan bisa beramal ikhlas Lillahi Ta’ala.
Ketika iman kita memuncak kepada Allah swt., segala amal untuk memberi manfaat bagi orang lain menjadi ringan dilakukan. Bilal bin Rabah bukanlah orang kaya. Ia hidup miskin. Namun kepadanya, Rasulullah saw. memerintahkan untuk bersedekah. Sebab, sedekah tidak membuat rezeki berkurang. Begitu kata Rasulullah saw. Bilal mengimani janji Rasulullah saw. itu. Ia tidak ragu untuk bersedekah dengan apa yang dimiliki dalam keadaan sesulit apapun.
Kedua, untuk bisa memberi manfaat yang banyak kepada orang lain tanpa pamrih, kita harus mengikis habis sifat egois dan rasa serakah terhadap materi dari diri kita. Allah swt. memberi contoh kaum Anshor. Lihat surat Al-Hasyr ayat 9. Merekalah sebaik-baik manusia. Memberikan semua yang mereka butuhkan untuk saudara mereka kaum Muhajirin. Bahkan, ketika kaum Muhajirin telah mapan secara financial, tidak terbetik di hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri.
Yang ketiga, tanamkan dalam diri kita logika bahwa sisa harta yang ada pada diri kita adalah yang telah diberikan kepada orang lain. Bukan yang ada dalam genggaman kita. Logika ini diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada kita. Suatu ketika Rasulullah saw. menyembelih kambing. Beliau memerintahkan seoran sahabat untuk menyedekahkan daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang tersisa. Sahabat itu menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw. mengoreksi jawaban sahabat itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah dibagikan.
Begitulah. Yang tersisa adalah yang telah dibagikan. Itulah milik kita yang hakiki karena kekal menjadi tabungan kita di akhirat. Sementara, daging paha yang belum dibagikan hanya akan menjadi sampah jika busuk tidak sempat kita manfaatkan, atau menjadi kotoran ketika kita makan. Begitulah harta kita. Jika kita tidak memanfaatkannya untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya. Harta itu akan habis lapuk karena waktu, hilang karena kematian kita, dan selalu menjadi intaian ahli waris kita. Maka tak heran jika dalam sejarah kita melihat bahwa para sahabat dan salafussaleh enteng saja menginfakkan uang yang mereka miliki. Sampai sampai tidak terpikirkan untuk menyisakan barang sedirham pun untuk diri mereka sendiri.
Keempat, kita akan mudah memberi manfaat tanpa pamrih kepada orang lain jika dibenak kita ada pemahaman bahwa sebagaimana kita memperlakukan seperti itu jugalah kita akan diperlakukan. Jika kita memuliakan tamu, maka seperti itu jugalah yang akan kita dapat ketika bertamu. Ketika kita pelit ke tetangga, maka sikap seperti itu jugalah yang kita dari tetangga kita.
Kelima, untuk bisa memberi, tentu Anda harus memiliki sesuatu untuk diberi. Kumpulkan bekal apapun bentuknya, apakah itu finansial, pikiran, tenaga, waktu, dan perhatian. Jika kita punya air, kita bisa memberi minum orang yang harus. Jika punya ilmu, kita bisa mengajarkan orang yang tidak tahu. Ketika kita sehat, kita bisa membantu beban seorang nenek yang menjinjing tak besar. Luangkan waktu untuk bersosialisasi, dengan begitu kita bisa hadir untuk orang-orang di sekitar kita.

Sabtu, 10 Desember 2011

Konsentrasi agar kita bisa sukses

Yuk Konsentrasi agar kita bisa sukses

Dalam beberapa hari ini saya dituntut dengan kegiatan pekerjaan yang agak padat, sehingga dituntut untuk dapat berkonsentrasi penuh untuk mendapatkan hasil yang maksimal. yah saat ini sedang mempelajari dan mengimplementasi JSOX Sistem (Sebuah Regulasi baru di jepang tentang penerapan sistem
internal control atas laporan keuangan), tapi permasalahannya terkadang konsentrasi itu terganggu karena adanya hal-hal lain yang harus diselesaikan dalam waktu yang bersamaan.

Dalam mengerjakan sesuatu, dalam menggapai mimpi, menggapai sukses kita akan dituntut dengan konsentrasi yang tinggi, mengapa konsentrasi dibutuhkan. Kemampuan kita dalam berkonsentarsi akan mempengaruhi kecepatan dalam menangkap materi yang kita butuhkan. Seorang pelajar / mahasiswa yang punya kemampuan bagus dalam berkonsentrasi akan lebih cepat bisa menangkap materi
yang seharusnya ia serap. Seorang karyawan yang bisa berkonsentrasi, ia akan cepat menangkap (menguasai) berbagai jenis keahlian yang ia butuhkan.

1. Konsentrasi, adalah sumber kekuatan. Apa hubungannya antara konsentrasi dengan kekuatan? Satu dari sekian penjelasan yang bisa menggambarkannya itu adalah cara kerja pikiran. Konon, pikiran kita akan bekerja berdasarkan "ingat" dan "lupa". Pikiran kita tidak bisa bekerja untuk lupa dan untuk ingat dalam satu waktu. Lupa dan ingat akan dilakukan secara bergantian dalam tingkat kecepatan yang sangat maha super. Kalau anda ingat kebaikan orang, saat itu juga kita melupakan kejelekannya. Sebaliknya, kalau kita
mengingat kejelekannya, maka saat itu juga kita melupakan kebaikannya. Teori Neouroscience- nya mengatakan bahwa otak manusia ini berubah sesuai dengan penggunaan. Kemana kita mengarahkan konsentrasi akan diikuti dengan perubahan struktur fisik otak itu (Neuroscience, Funderstanding, 1998-2001)

2.Konsentrai meningkatkan ketahanan. Kaitan konsentrasi dengan katahanan seseorang terletak pada porsi dan frekuensinya. Kalau pikiran ini lebih sering kita gunakan untuk mengingat atau melihat hal-hal positif dari diri kita, dari keadaan dan dari orang lain di sekitar kita, maka kesimpulan yang tercetak di dalam diri kita adalah kesimpulan positif. Kalau sudah kesimpulan ini yang terbentuk, maka energi yang muncul adalah energi positif. Kekuatan dalam menghadapi kerasnya kenyataan hidup ini terkait dengan energi positif.

ketika kita gagal, Jika yang kita ingat dan yang kita lihat adalah sisi-sisi yang mengecewakan dari kegagalan itu dan dari keadaan itu, maka sekuat apapun fisik kita pasti akan terasa berat untuk melangkah ke opsi lain. Akan beda rasanya ketika kita masih bisa melihat opsi dan alternatif lain atau bisa mengingat-ingat tujuan hidup kita dalam potret yang lebih besar (perspektif jangka panjang).

Meski kegagalan itu tetaplah kegagalan, tetapi energi yang keluar dari diri kita berbeda. Yang satu menambah kekuatan dan yang satunya malah mengurangi kekuatan. Untuk bisa mengingat yang positif, untuk bisa cepat melupakan hal yang negatif, dan untuk bisa melihat yang positif, tentu ini terkait dengan
kemampuan berkonsentrasi. Mahatma Gandhi menggunakan teknik "ingat" dan "lupa" untuk memperkuat perjuangannya. Ketika dirinya hampir mau putus asa menghadapi penjajahan, Gandhi kemudian memprogram pikirannya untuk ingat bahwa perjuangan menegakkan kebenaran itu selalu akan berakhir menang meski kelihatannya kalah di babak awal.

Dengan kata lain, ketahanan seseorang itu tidak semata-mata terkait dengan kekuatan fisiknya. Bukti-bukti yang ada lebih sering menunjukkan bahwa ketahanan itu terkait dengan kemana seseorang memfokuskan konsentrasinya. Konsentrasi, karena itu disebut sumber kekuatan. Kalau anda melihat kesulitan sebagai sebagai kesulitan, ini rasanya seperti bara api. Tapi kalau kita melihat kesulitan sebagai rangkaian yang terpisahkan dari tujuan yang kita inginkan, ini rasa-batinnya akan beda. Kesulitan di sini kita
anggap sebagai tantangan bukan sebagai tekanan.

3. Keseimbangan
Semakin bagus kemampuan Anda dalam berkonsentrasi, maka semakin cepat Anda bisa menangkap signal dari dalam diri tentang apa yang kurang, apa yang kebablasan, apa yang perlu dilakukan atau apa yang  erlu dihindari, apa yang baik dan apa yang tidak baik. Dengan ini semua maka hidup kita cepat seimbang atau stabil. Sopir yang punya kemampuan berkonsentrasi bagus akan tajam sensitivitasnya. Kalau membaca penjelasan para ahli seputar Kecerdasan Multiple (Multiple Intelligence) , konsentrasi ini terkait dengan apa yang mereka sebut dengan istilah Intra-personal intelligence, yaitu: kemampuan seseorang untuk bisa "connect" dengan dirinya

Sebenarnya tidaklah mudah untuk bisa mempertahankan konsentrasi dengan baik. Ada banyak hal yang dapat membuat konsentrasi seseorang melemah ataupun menjadi pecah, dan akhirnya setiap karya seseorang tidak memberikan hasil yang maksimal. Agar konsentrasi bisa tetap terjaga, bbeberapa hal bisa kita lakukan

-Sebelum kita mulai melakukan aktivitas, sedapat mungkin hindarilah hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi kita
-Cobalah bersikap tenang dan melupakan semua masalah yang kita hadapi sebelumnya. Kita bisa meluangkan waktu sejenak untuk kembali menstabilkan emosi kita
-Buang jauh-jauh semua hal negatif yang dapat mengganggu pikiran kita. Kalimat-kalimat negatif seperti "Saya takut" atau "Saya takut gagal" sebaiknya dibuang jauh-jauh karena hanya akan mematikan motivasi dan mengurangi semangat kita dalam bekerja. Percayalah pada semua kemampuan dan potensi yang ada dalam diri kita dan hadapilah semua tugas kita dengan rasa yang optimis
-Jangan sampai kita merasa bosan, karena hal itu hanya akan membuat pikiran melayang tak tentu arah dan akhirnya justru menghilangkan konsentrasi kita sama sekali. Untuk itu, buatlah jeda selama beberapa menit saat bekerja dengan cara melakukan hal lain yang berbeda dengan apa yang kita kerjakan
sebelumnya.

Terkadang kita sulit untu berkonsentrasi apa yang menyebabkan kita sulit erkonsentrasi menurut saya adalah sebau berikut:
  1. Emosi tidak stabil
Berbagai studi telah mengungkap bahwa stress, distress, depresi dan lain-lain bisa merusak memori (impaired memory) dan konsentrasi (inability to concentrate) . Kalau kita kembalikan ke awal (akar), munculnya berbagai gangguan mental itu terkait dengan persoalan pola hidup sehat (positif). Ini sepertinya sudah semacam "hukum alam". Semakin banyak pikiran negatif, sikap negatif, atau tindakan negatif yang kita biarkan, ya semakin rentan kita terhadap berbagai gangguan itu. Apa ada orang yang selalu positif? Tentu tidak ada. Yang membedakan adalah kemampuan "membersihkan" diri. Konon,
60-75 % penyakit fisik itu terkait dengan soal pikiran yang tidak sehat.

  1. Kekosongan emosi
Seseorang yang tidak punya tujuan hidup, tidak punya mimpi hidup, apa tujuan besar hidupnya, apa program-program pribadinya untuk mencapai target itu, akan cenderung mudah merasa kosong batinnya, hambar hidupnya, atau kecil kepeduliaannya terhadap kehidupannya. konsentrasi sukses pun rendah. Peduli akan memunculkan kemauan yang keras. Kemauanlah yang membuat hidup kita
dinamis, selalu terisi dari waktu ke waktu.

  1. Mengatur pikiran
Konon menurut ilmunya, pikiran kita itu memproduksi 60.000 �Can percikan pemikiran (thought) dalam setiap harinya. Jumlah yang sebanyak itu tentu ada yang melawan dan ada yang mendukung. Nah, supaya bisa mendukung, maka dibutuhkan manajemen. Salah satu unsur manajemen yang paling mendasar di sini adalah kemampuan menangkap (catching). Menangkap di sini maksudnya kita mengetahui apa yang dikerjakan oleh pikiran kita. Kita menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh pikiran kita.K konsentrasi kita bisa rusak lantaran kita tidak cepat mengetahui dan menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh pikiran kita.

Dalam konsentrasi, kita mengumpulkan semua energi yang terpencar untuk fokus hanya kepada satu hal. Apabila kita benar - benar menguasainya, konsentrasi memiliki manfaat yang luar biasa terhadap hidup kita.
Konsentrasi dapat meningkatkan produktivitas dan memberikan ketenangan pikiran. dan dalam berkonsentrasi dapat dilakukan dengan salah satu tips berikut:

  1. Fokus
Konsentrasi berarti kita dapat memfokuskan pikiran kepada satu hal. Konsentrasi mencakup konsentrasi dalam tulisan dan menyelesaikan masalah. Apapun aktivitas kita, criteria yang paling penting adalah untuk fokus, konsentrasi dan atentif kepada aktifitas yang sedang berlangsung.
Konsentrasi akan menjadi tidak berarti apabila kita diganggu oleh beberapa hal lain pada saat yang bersamaan. Untuk dapat berkonsentrasi, kita harus berhenti mencoba melakukan beberapa hal pada saat yang sama.. Apabila kita dapat fokus, kita akan bisa mendapatkan intensitas luar biasa


  1. Perjelas Tujuan Anda
Tujuan di sini banyak kegunaannya. Selain akan menjadi bimbingan, ia pun bisa mendinamiskan hidup. Dikatakan bimbingan karena kita tidak bisa menyuruhkan pikiran ini berkonsentrasi kalau tidak ada sasarannya. Target adalah sasaran untuk dipikirkan oleh pikiran kita. Pikiran yang kita gunakan
untuk memikirkan sasaran demi sasaran akan membuat hidup dinamis. Orang yang hidupnya dinamis dengan target-target yang dimiliki akan jauh dari gangguan dan kekosongan emosi.
Jadi, beri tugas pada pikiran untuk memikirkan sasaran, program atau target yang Anda buat.

  1. belajar Mengontrol Pikiran
Batu sandungan yang utama terhadap konsentrasi adalah gangguan yang tidak diinginkan yang muncul dalam pikiran kita. Gangguan ini akan menghalangi usaha kita untuk mencapai konsentrasi penuh. Solusi satu - satunya adalah belajar untuk mengontrol dan menenangkan pikiran kita. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah kita tidak memiliki pilihan untuk menerima ato menolak pikiran; jangan sampai kita merasa menjadi korban dari pikiran kita sendiri. Hal kedua adalah kita harus mengawasi pikiran kita secara sadar dan mencegah diri kita agar tidak terpengaruh gangguan apapun yang dapat mempengaruhi konsentrasi kita. Pada saat kita memulai suatu project, sangatlah mudah untuk bermimpi dan kehilangan fokus. Yang kita butuhkan adalah ketekunan untuk berkonsentrasi tanpa pikiran yang mengganggu. Apabila kita memiliki keinginan itu, konsentrasi akan menjadi lebih mudah.

  1. Sering-sering berkomunikasi dengan diri sendiri
Ini misalnya meditasi (bukan menyendiri). meditasi di sini maksudnya Anda memberi ruang dan kesempatan untuk diri sendiri supaya berbicara dengan diri sendiri, self-dialog, self-talk, meditasi, evaluasi, koreksi, refleksi, dan lain-lain. Ini berarti kita tidak perlu ke gunung untuk menyepi. Menyepi dalam pengertian yang luas bisa kita lakukan di tengah keramaian, misalnya di kampus, di kendaraan umum, di perpustakaan, dan lain-lain. Yang penting esensinya di sini adalah kita "ingat" pada diri kita, memikirkan diri kita, memikirkan target kita, memikiran apa yang sudah kita lakukan. Banyak orang yang hampir tidak pernah memikirkan dirinya dalam arti yang positif. Dari pagi sampai malam yang dipikirin orang lain, ingat orang lain, ngobrol ke sana ke mari tentang orang lain, dan seterusnya. Mestinya yang bagus adalah seimbang.

  1. Tingkatkan kepedulian
Kenapa peduli ini penting? Alasannya, ketika kita menolak peranan yang seharusnya kita lakukan berdasarkan status kita, maka yang muncul adalah konflik di batin, stress, depresi, distress, dan lain-lain. Ini biasanya diikuti oleh rombongannya, katakanlah seperti: keinginan yang tidak realistis dan akurat, pikiran yang tidak jelas fokus dan sasarannya, hasil yang tidak pasti, munculnya pikiran-pikiran negatif terhadap diri sendiri, terhadap orang lain dan terhadap keadaan.

  1. Perhatikan Kondisi Fisik
Kekuatan konsentrasi bergantung kepada kondisi fisik kita. Apabila kita merasa lelah atau kurang sehat, konsentrasi akan menjadi lebih sulit. Konsentrasi tentu saja masih dapat dilakukan, hanya saja akan menjadi lebih sulit. namun kita harus mencoba membuat hidup lebih mudah untuk diri kita sendiri; kita harus memberikan prioritas kepada kesehatan kita – cukup tidur, jaga tubuh agar tetap fit. Olahraga membantu kita untuk meningkatkan konsentrasi. Mengurangi berat badan, menjernihkan pikiran dan menciptakan dinamisme juga akan sangat membantu. Apabila Anda merasa sulit untuk berkonsentrasi, kami menyediakan solusinya; tubuh yang sehat dan olahraga dijamin akan membantu meningkatkan kekuatan konsentrasi.

Meski kita sering mengasosiasikan konsentrasi itu dengan cara kerja pikiran, tetapi kalau perasaan kita terluka atau terganggu, akibatnya pikiran juga terganggu. Banyak hal yang tidak bisa kita pikirkan dan tidak bisa kita lakukan dengan bagus karena kita sedang menyimpan perasaan yang tidak bagus.

Apapun yang kita kerjakan, ataupun kita ingkinkan dengan meningkatkan konsentrasi maka kita akan lebih mudah dalam melakukannya. dan berlatih konsentrasi adalah sebuah langkah awal untuk menggapai sukses,dengan konsentrasi hal kita akan bisa melakukan sesuatu sesuai dengan pengharapan kita.

ADAB PENUNTUT ILMU

ADAB PENUNTUT ILMU
Setiap perkara kebaikan yang kita lakukan adalah di tuntut supaya mengikut susur-galur yang telah ditetapkan mengikut panduan yang diteladani oleh junjungan besar nabi kita Muhammad S.A.W. Dan mengikut bahasa mudahnya adalah sebagai adab-adab yang perlu kita ikuti bagi memastikan keberjayaan ape yang kita buat berpaksikan kebenaran,contohnya menuntut ilmu, menuntut kita supaya mengikuti adab-adab sebagai penuntut ilmu.Yang mana hasilnya adalah keberkatan ilmu untuk kebaikan Dunia dan seterusnya Akhirat.
Menuntut ilmu adalah satu kewajipan bagi kita kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya. Adab-adab dalam menuntut ilmu yang harus kita ketahui agar ilmu yang kita tuntut berfaedah bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita sangatlah banyak. Adab-adab tersebut di antaranya adalah:
1. Ikhlas karena Allah S.w.t . Hendaknya niat kita dalam menuntut ilmu adalah kerana Allah S.w.t dan untuk negeri akhirat. Apabila seseorang menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan gelar agar boleh mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi orang yang terpandang atau niat yang sejenisnya, maka Rasulullah e telah memberi peringatan tentang hal ini dalam sabdanya :
"Barangsiapa yang menuntut ilmu yang pelajari hanya kerana Allah S.w.t sedang ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan mata-benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau syurga pada hari kiamat".( HR: Ahmad, Abu,Daud dan Ibnu Majah Tetapi kalau ada orang yang mengatakan bahawa saya ingin mendapatkan syahadah (MA atau Doktor, misalnya ) bukan kerana ingin mendapatkan dunia, tetapi kerana sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis kalau seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, segala ucapannya menjadi lebih didengarkan orang dalam menyampaikan ilmu atau dalam mengajar. Niat ini - insya Allah - termasuk niat yang benar.
2.Untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain. Semua manusia pada mulanya adalah bodoh. Kita berniat untuk menghilangkan kebodohan dari diri kita, setelah kita menjadi orang yang memiliki ilmu kita harus mengajarkannya kepada orang lain untuk menghilang kebodohan dari diri mereka, dan tentu saja mengajarkan kepada orang lain itu dengan berbagai cara agar orang lain dapat mengambil faedah dari ilmu kita. Apakah disyaratkan untuk memberi manfaat pada orang lain itu kita duduk di masjid dan mengadakan satu pengajian ataukah kita memberi manfa'at pada orang lain dengan ilmu itu pada setiap saat? Jawapan yang benar adalah yang kedua; kerana Rasulullah S.a.w bersabda :
"Sampaikanlah dariku walaupun cuma satu ayat (HR: Bukhari)
Imam Ahmad berkata: Ilmu itu tidak ada bandingannya apabila niatnya benar. Para muridnya bertanya: Bagaimanakah yang demikian itu? Beliau menjawab: ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.
3. Berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at. Sudah menjadi keharusan bagi para penuntut ilmu berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at. Kerana kedudukan syari'at sama dengan pedang kalau tidak ada seseorang yang menggunakannya ia tidak bererti apa-apa. Penuntut ilmu harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang dari agama (bid'ah), sebagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah S.a.w. Hal ini tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang memiliki ilmu yang benar, sesuai petunjuk Al-Qor'an dan As-Sunnah.
4. Lapang dada dalam menerima perbezaan pendapat. Apabila ada perbezaan pendapat, hendaknya penuntut ilmu menerima perbezaan itu dengan lapang dada selama perbezaan itu pada persoalan ijtihad, bukan persoalan aqidah, kerana persoalaan aqidah adalah masalah yang tidak ada perbezaan pendapat di kalangan salaf. Berbeza dalam masalah ijtihad, perbezaan pendapat telah ada sejak zaman shahabat, bahkan pada masa Rasulullah S.a.w masih hidup. Kerana itu jangan sampai kita menghina atau menjelekkan orang lain yang kebetulan berbeza pandapat dengan kita.
5. Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan. Termasuk adab yang tepenting bagi para penuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, kerana amal adalah buah dari ilmu, baik itu aqidah, ibadah, akhlak mahupun mu'amalah. Kerana orang yang telah memiliki ilmu adalah seperti orang memiliki senjata. Ilmu atau senjata (pedang) tidak akan ada gunanya kecuali diamalkan (digunakan).
6. Menghormati para ulama dan memuliakan mereka. Penuntut ilmu harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai ia mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru di dalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang biasa saja sudah termasuk dosa besar apalagi kalau orang itu adalah seorang ulama.
7. Mencari kebenaran dan sabar Termasuk adab yang paling penting bagi kita sebagai seorang penuntut ilmu adalah mencari kebenaran dari ilmu yang telah diperolehi. Mencari kebenaran dari berita berita yang sampai kepada kita yang menjadi sumber hukum. Ketika sampai kepada kita sebuah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dahulu tentang keshahihan hadits tersebut. Kalau sudah kita temukan bukti bahawa hadits itu adalah shahih, kita berusaha lagi mencari makna (pengertian ) dari hadits tersebut. Dalam mencari kebenaran ini kita harus sabar, jangan tergesa-gasa, jangan cepat merasa bosan atau keluh kesah. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran setengah-setengah, belajar satu kitab sebentar lalu ganti lagi dengan kitab yang lain. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa dari yang kita tuntut. Di samping itu, mencari kebenaran dalam ilmu sangat penting kerana sesungguhnya pembawa berita terkadang punya maksud yang tidak benar, atau barangkali dia tidak bermaksud jahat namun dia keliru dalam memahami sebuah dalil.
Sebagai penuntut ilmu terutamanya ilmu agama ALLAH,marilah sama-sama kita ikuti dan teladani ape yang Rasullah S.A.W. tinggal kepada kita mengenai adab-adab sebagai penuntut ilmu mudah-mudahan kita mendapat keberkatan ilmu itu sendiri,yang akhirnya dapat menyelamatkan masyarakat dan ummah seluruhnya.
Wallahu 'Alam.

Uang Bukan Kunci Perbaikan Kualitas Pendidikan

Uang Bukan Kunci Perbaikan Kualitas Pendidikan

Anggaran pendidikan sering dituding sebagai penyebab morat-maritnya
pendidikan di Indonesia. Betulkah demikian? Apakah dengan uang maka
otomatis pendidikan akan membaik?

Beberapa hari lalu, dalam sebuah percakapan di salah satu milis yang
saya ikuti, timbul pertanyaan seperti ini, “Apakah mungkin Indonesia
memiliki siswa-siswa yang nomor satu cerdasnya?”. Sebuah pertanyaan yang
mungkin terasa sederhana, bahkan tidak baru. Tapi sangat kuat
mengisyaratkan kepedulian sang penanya akan nasib masa depan Indonesia.
Untuk mencari jawabnya, kita perlu lebih dulu melontarkan pertanyaan
awalan: negara mana sajakah yang sukses dalam mendidik siswanya, dan apa
kiat yang mereka pakai?

Banyak orang berasumsi bahwa kualitas pendidikan dapat diperbaiki dengan
uang. Misalnya dengan meningkatkan anggaran pendidikan, seperti yang
dilakukan Inggris. Atau bisa juga dengan menyediakan gaji di atas
rata-rata untuk profesi guru, dengan maksud agar mendapatkan guru-guru
berkualitas, layaknya strategi yang dipakai Amerika. Namun ternyata
kedua negara tersebut bukanlah negara-negara dengan prestasi pendidikan
tertinggi, setidaknya jika dinilai berdasarkan prestasi murid sekolah
dasarnya. Negara-negara terbaik dalam kategori ini adalah Kanada,
Finlandia, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan.

Lantas, apa persamaan strategi yang dipakai oleh kelima negara tersebut?
Ternyata, menurut McKinsey -perusahaan konsultan yang terbiasa dimintai
advis oleh perusahaan dan pihak pemerintahan-, resepnya hanya tiga:

* Pastikan anda mendapatkan guru dengan kualitas terbaik,

* Ciptakan suasana kondusif agar para guru terpilih tersebut
mengeluarkan kemampuan terbaiknya, dan

* Segera beri bantuan khusus bagi para siswa yang tertinggal, segera
begitu mereka membutuhkannya.

Resep di atas begitu sederhananya sehingga banyak pihak dengan skeptis
bertanya, “Apakah Inggris dan Amerika tidak pernah menerapkannya
sebelumnya?” Ternyata memang tidak.

Berkaitan dengan resep nomor satu, lagi-lagi, ternyata memang uang
bukanlah kunci untuk segalanya. Negara Jerman, Spanyol, Swiss
menyediakan gaji guru lebih tinggi dari rata-rata, tapi hasilnya tidak
seperti yang diharapkan. Sebaliknya, strategi yang dijalankan Singapura
dan Finlandia, misalnya, cukup sederhana: jumlah kursi masuk yang
tersedia di institusi pelatihan menjadi guru (di Indonesia, dulu disebut
IKIP) dibatasi, cukup hanya sebanyak jumlah lowongan pekerjaan yang
tersedia di lapangan. Dengan demikian, saringan masuk menjadi terjaga
kualitasnya, para guru yang lulus dari pelatihan tersebut dijamin
mendapat pekerjaan, negara tidak perlu menyediakan gaji di atas
rata-rata bagi para guru, sementara status profesi guru di masyarakat
pun menjadi tinggi.

Sedangkan pada resep nomor dua, negara Jepang memiliki strategi cukup
unik: mereka menyediakan forum antar guru, sehingga mereka dapat
bertukar informasi, baik keberhasilan dalam menerapkan tips tertentu
dalam mengajar maupun kesulitan praktis yang dihadapi di lapangan. Ini
berbeda dengan di Amerika, misalnya, di mana kesuksesan seorang guru
yang inovatif tidak menular ke guru-guru lainnya, karena memang tidak
ada wadah yang kondusif untuk itu.

Resep yang ketiga diimplementasikan oleh Singapura, misalnya, dengan
cara menyediakan kelas khusus bagi para siswa yang performansinya
termasuk paling rendah di kelasnya. Dalam kelas-kelas khusus ini, para
guru berdedikasi membantu para siswa hingga setelah jam sekolah usai.

Sekali lagi, tiga resep di atas mematahkan asumsi bahwa uang adalah
segalanya, termasuk untuk memecahkan lingkar masalah di dunia
pendidikan. Nah, bagaimana dengan di Indonesia? Pertanyaan yang
dilontarkan di awal artikel ini, yaitu “apakah mungkin Indonesia
memiliki siswa-siswa yg nomor satu cerdasnya?” bisa dijawab dengan
mencoba menilik sejauh mana negara kita telah mencoba menerapkan tiga
resep tersebut.

(*) Disadur dari artikel yang dimuat di Economist.com:
http://www.economist.com/PrinterFriendly.cfm?story_id=9989914